Landasan Ilmu Pendidikan “Kebudayaan dan Kepribadian”

Kebudayaan dan Kepribadian

Manusia sebagai Makhluk dan Pencipta Kebudayaan

Kebudayaan adalah ciptaan manusia dan syarat bagi kehidupan manusia. Manusia menciptakan kebudayaan dan kebudayaan menjadikan manusia makhluk berbudaya. Lihatlah seorang anak kecil, seluruh hidupnya tergantung kepada orang lain. Bayi tidak bisa mengendalikan emosinya dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Selain itu, bayi juga belum mampu membayangkan masa depannya serta membagi apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai manusia. Namun, suatu saat dia akan menjadi seorang dewasa yang mempunyai keinginan-keinginan dan kebencian yang terkendalikan serta mampu berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat yang kompleks.

Hal tersebut di atas dapat terjadi karena adanya enkulturasi atau internalisasi budaya, yakni suatu proses seorang individu menyerap cara berfikir, bertindak, dan merasa yang mencerminkan kebudayaannya. Anak-anak yang dibesarkan oleh binatang akan bertindak seperti binatang, meskipun pada saat dewasa kemampuan kemanusiaannya mungkin masih bisa dikembangkan.

Selama masa kanak-kanak dan masa mudanya, enkulturasi menstabilkan budaya, karena enkulturasi mengembangkan kebiasaan-kebiasaan sosial yang diterima menjadi kepribadian yang makin matang. Ketika dewasa, enkulturasi sering mendorong perubahan, karena banyak bentuk-bentuk perilaku yang memerlukan enkulturasi pada orang dewasa, barangkali baru, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi kebudayaan itu sendiri.

Kebudayaan membentuk manusia secara intelektual, emosional dan bahkan secara fisik. Kebudayaan menentukan cara-cara bereaksi secara fisik, seperti isyarat, ekpresi wajah, cara berjalan, duduk, makan dan tidur. Bila tidak sedang berdiri atau bergerak, orang Barat biasanya duduk di kursi, bangku atau kursi besar. Kita akan merasa tidak senang membungkuk di lantai atau bersila untuk waktu yang lama, atau untuk duduk dengan kaki menghunjur atau duduk di kursi rendah tanpa sandaran. Juga tidak enak istirahat dengan berdiri pada sebelah kaki dan mengistirahatkan kaki yang lain pada lutut, seperti dipraktekkan oleh orang-orang Nilotik Afrika. Begitulah, di desa India wanita mengurus pekerjaan rumah tangganya dengan duduk atau membungkuk di lantai.

Kebudayaan menentukan bagaimana cara berfikir tentang dunia dan bagaimana kita memandangnya. Masing-masing budaya menentukan jaringan hubungan simbol-simbol dengan realita, sehingga masing-masing kita menghayati realita ini melalui simbol-simbol yang disediakan oleh kebudayaan. Sebenarnya realita hanya ada pada kita sejauh kebudayaan telah membuatnya tersedia untuk kita.

Bayangkanlah sesuatu yang biasa, seperti sepohon kayu. Orang modern melihat sebatang kayu sebagai objek yang dapat digunakan untuk dekorasi, pertanian, atau reboisasi. Bagi orang Indian Black Elm dari Dakota sebaliknya, pohon kayu adalah pribadi-pribadi dengan hak yang sama terhadap tanah sama seperti manusia, makhluk yang berdiri, di atasnya makhluk-makhluk bersayap membangun rumahnya dan membesarkan anak-anaknya. Pertimbangkanlah sesuatu yang penting seperti interpretasi realita. Orang modern mempercayai bahwa objek-objek terletak terpisah dalam ruang dan waktu dan peristiwa-peristiwa terjadi terpisah berdasarkan urutan sebab akibat. Namun bagi orang Trobriand realita adalah satu keseluruhan tanpa ada pemisahan ruang dan waktu dan tidak ada pemisahan benda-benda. Dalam pandangan mereka orang tidak berjalan dari satu titik ke titik lain, tetapi selalu berada pada satu titik. Semua peristiwa-peristiwa membentuk pola-pola dan semua pola bersatu menjadi satu keseluruhan. Dengan demikian, bila bagi kita sebuah benda bermakna bila ia dapat diterangkan secara causal, bagi mereka benda itu hanya berarti bila bisa dimasukkan ke dalam suatu pola yang sudah terbentuk.

Kebudayaan

Definisi budaya menurut Koentjaranigrat menyebutkan bahwa kata kebudayaan berasal dari kata sansekerta yang artinya buddhaya yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan bisa diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal.
Selain itu E.B. Taylor mengukapkan budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hokum, adat istiadat, serta kebiasaan lainnya yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Kemudian Linton juga mengukapkan budaya adalah keseluruhan pengetahuan, sikap, dan pola perilaku yang merupakn kebiasaan yang dimilki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu. Selain ketiga ahli diatas, tidak ketinggalan Kluckhon dan Kelly juga memberikan pengertian budaya menutut pemahamn yang mereka milki. Yang menurutnyta budaya adalah semua rancangan hidup tercipta secara histories, baik yang eksplit maupun implisit, rasional, irasional yang ada pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia.

Kebudayaan dan Kepribadian

Kebudayaan dan kepribadian merupakan tempat bertemunya psikologi dan antropologi. Hal itu mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat secara baik mengerti perilaku individu dan tanpa mempertimbangkan latar dan komponen budaya, juga kita tidak dapat memahami institusi budaya tanpa ada pengetahuan tentang individu-individu yang turut serta didalamnya. Kebudayaan dan kepribadian menentang kecenderungan para psikolog untuk memusatkan perhatian kepada individu baik sendirian maupun dalam hubungan dengan beberapa orang terpilih. Kebudayaan dan kepribadian menunjukkan bahwa karena pada masing-masing orang telah melembaga dalam bentuk miniatur banyak dari kebudayaannya, banyak aspek dari perilakunya mesti diterangkan tidak hanya dari segi dirinya sendiri, tetapi juga dari segi budaya yang ada di luar dan di dalam dirinya. Tambahan lagi, dengan memperlihatkan bahwa kita dapat mengamati kebudayaan hanya dalam perilaku individu-individu, hal tersebut mengimbangi kecenderungan bidang-bidang lain antropologi untuk memusatkan perhatian pada pola yang diabstraksikan dari perilaku individu seakan akan mereka ada dengan sendirinya.

Dorongan pertama terhadap pengkajian kebudayaan dan kepribadian datang bari psikoanalisa, yang mengarahkan perhatian antropolog kepada tiga faktor penting, yaitu: (1) kesan yang dalam yang ditinggalkan pengalaman masa kanak-kanak awal pada struktur kepribadian kepribadian seorang dewasa, (2) status orang tua dan guru-guru sebagai agen budaya; dan (3) kenyataan bahwa proses enkulturasi, yang sudah lumrah bagi antropologi, adalah juga pembentuk utama kepribadian.

Persekutuan antropologi dan psikoanalisa memunculkan apa yang pada umumnya masih merupakan premis dasar kebudayaan dan kepribadian bahwa metode pengasuhan anak dalam kebudayaan tertentu manghasilkan atau menolong menghasilkan suatu struktur kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai pokok kebudayaan dan institusi-institutinya. Meskipun mereka-mereka yang mengasuh anak tidak menyadarinya, metode yang dipakai mereka dalam mengemong, memberi perhatian, memberi makan, menidurkan, semuanya, mengarahkannya untuk berperiraku menurut nilai-nilai kebudayaan dan kelompoknya. Menurut beberapa antropolog, ketabahan orang lndian Amerika merupakan hasil (sebagian) papan buaian yang kaku di mana anak lndian diikatkan selagi bayi dan pengungkungan yang dialaminya semasa kanak-kanak. Berlawanan dengan itu masyarakat Pueblo di New York Mexico dan Arizona yang memerlukan penduduk yang kooperatif untuk menjarankan sistem pertanian yang beririgasi menggunakan papan buaian yang menyenangkan untuk menanamkan disposisi yang lebih akomodatif.

William H. Sewell menyatakan bahwa faktor dasar yang bertanggungjawab terhadap perkembangan kepribadian tidak perlu metode tertentu atau alat-alat yang digunakan untuk melatih anak-anak, melainkan seluruh situasi personal dan sosial dalam praktek-praktek pengasuhan anak, termasuk sikap dan perilaku ibu. Meskipun pengalaman masa kanak-kanak mungkin meletakkan dasar-dasar kepribadian dewasa, pengalaman tersebut tidaklah membentuk kepribadian tersebut secara keseluruhan. Seperti dikatakan psikoanalisa, anak berkembang aman dan penuh penyesuaian sebab orang tua telah mengasuhnya dengan penuh kasih sayang dan dalam batas-batas yang diijinkan.

Beberapa Pendekatan Tradisional terhadap Kajian Kebudayaan dan Kepribadian.

Tekanan utama dalam kajian kebudayaan dan kepribadian adalah, dari sudut kebudayaan sejauh mana kebudayaan membentuk kepribadian dari anggota-anggotanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Menurut pandangan ini masa-masa pendidikan awallah yang membentuk pola dari kepribadian dewasa, karena itu masa kanak-kanak yang sama akan menghasilkan kepribadian dewasa yang sama. Karena kebudayaan menentukan apa yang harus diajarkan orang tua dengan cara bagaimana, kita bisa mengharapkan kebudayaan tertentu akan menghasilkan type keribadian tertentu.

  1. 1. Pendekatan Konfigurasi

Pendekatan ini berusaha mengkorelasikan tipe kepribadian dasar sebuah kebudayaan dengan konfigurasi pokoknya. Pendukung utamanya adalah R. Benedict dan Margaret Mead. Benedict mengatakan bahwa konfigurasi dasar sebuah kebudayaan dapat dikorelasikan dengan tipe kepribadian tertentu yang karena itu mempengaruhi pengambilan, pertumbuhan, dan perobahan banyak elemen yang berbeda dalam suatu kebudayaan. Sebagai ketentuan, dia mendefinisikan konfigurasi-konfigurasi ini dengan menggunakannya terhadap seluruh penduduk sebagaimana psikolog menggunakannya untuk individu-individu. Dalam buku “Patterns of Culture” mengklasifikasikan bahwa orang Dobu mempunyai kepribadian “paranoid” dan orang Kwakiuth mempunyai kepribadian “megalomaniag paranoid” dan dia menanamkan kepribadian orang Zuni “Apollonian” dan orang lndian Plain dengan “Dionysian”.

Sedangkan Ruth Benedict mendalilkan satu kepribadian untuk tiap kebudayaan. sebaliknya Margaret Mead menemukan beberapa tipe kcpribadian.Menurutnya, kedalam tiap-tiap kebudayaan, lahir sejumlah type temperamen, genetis dan konstitusional, dari padanya hanya beberapa yang diizinkan berkembang, yaitu yang sesuai dengan konfigurasi dasar kebudayaan, sebagian hasilnya, temperamen-temperamen, yang sangat lentur ketika lahir, dibentuk menjadi tipe kepribadian yang dominan, karena diperlukan.

  1. 2. Pendekatan Rata-Rata

Beberapa penulis, seperti Abram Kardiner, menganggap bahwa kepribadian dasar bukan sebagai type psikologis yang dicocokkan dengan nilai-nilai dominan kebudayaan melainkan dibangun diatas disposisi bawah sadar tertentu (terhadap orang tua terutama) yang dibentuk oleh institusi pertama kebudayaan seperti cara pengasuhan anak dan organisasi keluarga. Disposisi ini tetap selama hidup, dan diproyeksikan kepada orang lain dan situasi-situasi, dan kedalam institusi-institusi kebudayaan tingkat kedua, seperti seni, agama, hukum, pemerintah dan mitos.

Lebih dahulu, sebenarnya, Ralph Linton telah mengatakan  bahwa kepribadian dasar yang dihasilkan kebudayaan mungkin dirobah oleh status dan peran yang dimiliki seseorang setelah jadi dewasa. Status-status dan peran ini mungkin akan menghasilkan sub-type atau varian dari karakteristik kepribadian dasar. Dengan demikian, masing-masing orang akan mempunyai “kepribadian dasar” yang terdiri dari budaya universal yang dipelajari ketika kecil dan sejumlah “kepribadian status” yang cocok dengan peran-peran apa yang dimainkannya.

  1. 3. Pendekatan Sosialisasi

Dalam buku The Lonely Crowd, D. Reisman meneliti konsekuensi sosial dan psikologi peralihan masyarakat industri awal ke masyarakat makmur–konsekuensi-konsekuensi yang terlihat sangat jelas dalam pola kehidupan kelas menengah kota Amerika. Dalam masyarakat makmur, katanya, orang tua lebih permisif dan melakukan sedikit kontrol langsung terhadap anak-anak mereka. Karena itu anak-anakcenderung untuk tidak menginternalisasikan nilai-nilai orang tuanya secara kuat melainkan mengambil standar-standar dari teman sebayanya. Dia bertumbuh menjadi orang dewasa yang tidak memiliki akar prinsip-prinsip moral yang kuat dan menghargai secara kurang atau lebih lenqkap adat istiadat kelompoknya.

Reisman menbedakan 3 tipe karakter yang dihasilkan oleh 3 jenis masyarakat sebagai berikut:

  1. Tradition directed man, yang dalam bentuk murninya ada dalam masyarakat sederhana, anggota-anggota masyarakat tersebut kurang sadar akan dirinya sebagai individu yang berbeda dengan masyarakatnya sendiri, siapa dia dan apa yang dibutuhkannya ditentukan secara keseluruhan oleh masyarakat.
  2. lnner directed man, seperti orang borjuis abad ke 19, menginternalisasikan norma-norma budaya yang ditanamkan kepadanya di rumah dan di sekolah sehingga dia berfikir tentang mereka sebagai dirinya sendiri dan berjuang untuk merealisasikannya.
  3. Other directed man, yang makin bertambah jumlahnya dalam masyarakat kelas menengah Amerika dan sampai batas tertentu dalam kelas-kelas menengah masyarakat industri yang lain-lain, menyerap nilai-nilainya dari orang sesamanya.

Semua tujuan-tujuan yang dikejar orang bersumber dari kebudayaannya, tetapi orang “inner directed” telah mencernakan nilai-nilai ini. Sebaliknya, bagi orang-orang “other directed” nilai-nilai tersebut berada diluarnya, dan karenanya orang “other – directed” lebih tergantung pada kelompok di dalam mana mereka diwakili. Orang “inner  directed” percaya akan validitas akan tujuan-tujuannya, sehingga dia bisa meremehkan tuntutan dari teman sebayanya. Di sisi lain, orang “other  directed“, yang memiliki tujuan-tujuan sendiri yang kurang memaksa, menyesuaikan standar-standarnya kepada standar-standar kelompok bersama siapa ia hidup dan bekerja.

Dalam menekankan dominasi kebudayaan terhadap individu, Reisman mengikuti pendekatan tradisional tentang kebudayaan dan kepribadian. Seperti “tradition direction“, keduanya, “inner direction” dan “other direction” adalah pola konformitas, yang satu berkonformitas pada nilai-nilai orang tua (internalized) yang lain terhadap teman sebaya (externalized). Walaupun Reisman umumnya optimistis dalam pandangannya terhadap Amerika masa kini, ia lebih dekat kepada Freud seperti dalam “Civilization and Discontent” dari Neo Freudian Erich Fromm dan Karen Horney ketika ia mendefinisikan individu yang disosialisasikan dalam bentuk apa yang dilarang masyarakat untuk dilakukan dan bukan apa yang dirangsang masyarakat untuk dekerjakan. Berlawanan dengan Fromm yang percaya bahwa kebudayaan memang diperlukan bagi pemenuhan kebutuhan mendasar manusia (mungkin dalam beberapa budaya mengecewakan individu). Tipologi Reisman berimplikasi bahwa kebudayaan bermusuhan terhadap individualitas dan terhadap dorongan dasar manusia.

Kritik terhadap Pendekatan Tradisional

Pendekatan tradisional menyampingkan kemungkinan bahwa orang mungkin menyesuaikan diri dengan pola budaya yang merupakan bukti yang cukup untuk adanya struktur karakter di dalamnya, tanpa perlu memiliki karakter yang telah disediakan bagi mereka. Masyarakat tidak perlu memaksa tipe kepribadian yang dibutuhkannya. Tidak satupun kepribadian dasar yang dikumpulkan oleh antropolog dari data tentang pola-pola dominan berbagai kebudayaan telah ditunjukkan membentuk suatu mayoritas diantara penduduk-penduduk yang diteliti. Padahal, telah diperdebatkan bahwa tidak satupun masyarakat memiliki kepribadian dasar yang secara statistik cukup representatif seperti yang ditemukan oleh pendekatan-pendekatan yang disebutkan diatas. Selain itu, sangat sukar untuk melihat bagaimana dalam satu masyarakat modern yang kompleks dengan begitu banyak variabel yang harus diukur kepribadian dasar yang demikian akan pernah dapat terbentuk.

Pendekatan tradisional juga menyampingkan batas sejauh mana kebudayaan memungkinkan individu mengembangkan potensi uniknya. Dengan menekankan hal-hal yang negatif dan aspek-aspek yang membatasi kebudayaan, pendekatan-pendekatan diatas kurang memperhatikan kesempatan-kesempatan yang ditawarkan bagi pemenuhan kepuasan pribadi yang bersifat kreatif. Selain itu, dalam menekankan kesamaan metode pengasuhan anak dalam satu masyarakat mereka menyampingkan keragaman yang dikenal dalam pembentukan karakter yang pada kenyataan masing-masing orang tua menyampaikan kebudayaan dengan cara-cara yang sedikit berlainan. Mereka juga menyampingkan kenyataan bahwa masing-masing orang menginterpretasikan kebudayaan yang diterima sesuai dengan tempramen dan sejarah pribadinya. Bila pola-pola ini disampaikan, variasi ini merintis jalan untuk variasi lebih lanjut, karena masing-masing orang menolong mensosialisasikan pada yang lain, baik sebagai orang tua, guru, mentor, maupun sebagai majikan.

Pendekatan tradisional juga menyampingkan sejauhmana konteks sosial, yaitu tuntutan berbagai peran dan situasi  mempengaruhi perilaku seorang individu. Misalnya seorang guru cenderung untuk melakukan ciri-ciri profesinya. Bahkan guru juga juga dipengaruhi oleh kelas-kelas yang mereka ajar. Guru sekolah dasar yang terbiasa berperilaku lemah lembut, lambat laun akan menjadi kepribadiannya. Guru-guru sekolah menengah, yang harus mengurus anak-anak yang secara sosial terlalu matang dan terlalu muda secara emosional, akan berkembang menjadi kepribadian yang selalu awa terhadap kesulitan-kesulitan. Sedangkan guru-guru kelas lebih tinggi, yang otoritasnya kurang dilawan, akan lebih lunak dan tenang.

Pendekatan-Pendekatan yang Lebih Baru

Berlawanan dengan pandangan tradisional bahwa perilaku yang disetujui secara budaya adalah hasil dari internalisasi dari norma-norma selama masa kanak-kanak dan remaja, Devereux mengemukakan bahwa kegiatan tertentu, seperti bepergian ke gereja tidak perlu hanya memuaskan satu atau sebuah motif budaya yang telah ditanamkan, aktivitas tersebut mungkin memuaskan serangkaian motif-motif subjektif. la merujuk umpamanya, berbagai motif yang mengarahkan individu-individu orang Hongaria untuk turut serta menentang Rusia pada tahun 1956. Sama saja, satu atau beberapa motif mungkin bisa menggerakkan beberapa kegiatan yang secara budaya diperbolehkan. Jika konformitas budaya mungkin terbit dari motif pribadi dan tidak perlu dari norma-norma yang diinternalisasikan. Hal ini dapat diartikan bahwa peran iuga mungkin didorong tidak hanya oleh tuntuntan peran itu sendiri, tetapi bisa juga serangkaian motif. Misalnya, Seorang guru yang mungkin melatih siswa berenang sesudah jam sekorah tidak hanya karena ia tahu bahwa semacam kegitan extra kurikuler, tetapi juga karena ia menikmati suasana santai bersama siswanya, ataupun karena dia tidak mau pulang, karena hal tersebut akan mengingatkannya ke masa remajanya, atau banyak alasan lain.

Menurut A.F. Wallace kondisi dasar bagi konformitas budaya bukanlah kesatuan perhatian atau motif, melainkan kenyataan bahwa masing-masing orang tahu  apa yang diperlukan dalam berbagai keadaan dan karena itu cenderung berprilaku yang sesuai dengan keadaan tersebut. Sebuah kebudayaan akan berfungsi dengan baik jika “mazeways” anggota-anggotanya berisi baik identik atau hanya makna yang sama bagi stimuli yang standar. Teori Wallace ini penting, karena mempunyai implikasi suatu pandangan yang lebih memikirkan kemerdekaan manusia, bukan seperti pandangan golongan tradisional. Teori Wallace memandang individu lebih sedikit terikat kepada motif-motif yang dibentuk kebudayaan sehingga lebih mampu untuk mengambil keputusan yang rasional.

Gordon Allport menyatakan bahwa terdapat tiga tahap dalam pengambilan norma-norma atau model dari kebudayaan seseorang, yaitu: (1) pengambilan model budaya, (2) reaksi terhadap model, (3) pemasukan dari model yang sudah dirobah sebagai penyesuaian pertama kepribadian yang matang. Misalnya, antara umur lima dan sepuluh tahun anak-anak cenderung untuk secara moral bersifat kaku, menyarankan dengan keras bahwa semua permainan dimainkan berdasarkan peraturan yang ada, dan setiap cerita mesti disampaikan seperti sebelumnya. Sebagai seorang remaja, sebaliknya, ia bereaksi kadang-kadang dengan melawan moral orang tua, guru dan orang dewasa lainnya. Akhirnya sebagai seorang dewasa dia mencampurkan elemen tradisional dalam budayanya dengan pribadi yang dia sukai, menghasilkan suatu kepribadian yang khusus, sama dengan kepribadian orang lain pada umumnya dalam masyarakatnya, tetapi lebih bersifat individu dan dihasilkan sendiri, bukan seperti apa yang dikatakan oleh para pendukung pendekatan tradisional.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s