Skripsi Nofyta Arlianti, Spd

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE TRUE OR FALSE TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SLTPN 26 PADANG PADANG

 

 

 

 

Oleh :

 

 

Nofyta Arlianti

0310013211022

SKRIPSI

Ditulis untuk Memenuhi Sebagaian Persyaratan

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BUNG HATTA
PADANG

2008

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A. Latar Belakang Masalah

Menjadi guru yang baik tidaklah mudah, karena guru dituntut juga meningkatkan pengalaman dan pengetahuannya sehingga terampil dan profesional dalam melaksanakan fungsi sebagai guru dan sebagai pendidik. Untuk mencapai hasil yang optimal, guru harus berusaha memilih dan melaksanakan teknik-teknik mengajar yang dapat merangsang kegiatan belajar siswa semaksimal mungkin.

Sehubungan dengan itu dalam kegiatan belajar mengajar juga dituntut keaktifan siswa untuk memperluas materi di samping materi yang telah disajikan atau diberikan guru dalam kelas. Siswa harus aktif dalam memperoleh keterangan yang lebih banyak, sampai ia dapat memahami materi sebaik mungkin karena belajar akan lebih berhasil bila siswa sendiri yang melakukannya.

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak bermunculan metode dan strategi mengajar. Salah satu strategi mengajar yang sedang berkembang adalah strategi pembelajaran aktif yang dikemukakan oleh Zaini (2004: xvii):

Strategi pembelajaran aktif membantu siswa untuk bisa mengerti kekuatan dan kelebihan mereka yang sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing. Di samping itu siswa juga dapat menggunakan kemampuan otak mereka dalam belajar tanpa harus dipaksa.

 

Berdasarkan alasan tersebut, seorang guru dapat menyampaikan materi  dengan strategi yang bervariasi, dan tentunya melibatkan siswa secara aktif.

Hal ini dilakukan dengan tujuan agar siswa mempunyai jiwa kemandirian dalam belajar dan kalau bisa diusahakan untuk menumbuhkan daya kreatifitas sehingga mampu membuat inovasi-inovasi. Strategi pembelajaran ini umumnya disebut dengan strategi pembelajaran aktif.

Berdasarkan pengalaman penulis selama mengikuti progam praktek lapangan kependidikkan pada bulan Juli- Oktober 2007 di SLTPN 26 Padang dan hasil wawancara dengan salah satu guru matematika di sekolah tersebut pada bulan April 2008, penulis mendapatkan gambaran bahwa siswa kurang termotivasi dalam proses pembelajaran dan kurangnya keinginan siswa dalam mengerjakan latihan terutama pada mata pelajaran matematika. Proses pembelajaran yang dilakukan masih terpusat pada guru dan berlangsung monoton, guru memberikan materi dan contoh soal, siswa mendengarkan penjelasan yang diberikan guru, kemudian mengerjakan latihan yang diberikan guru. Komunikasi juga berlangsung hanya satu arah yaitu dari guru ke siswa dan kurangnya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Contohnya, jika siswa diminta untuk membuat penyelesaian soal di depan kelas, sedikit sekali yang secara langsung bersedia untuk mengerjakan. Pada umumnya siswa bersedia mengerjakan kalau sudah ditunjuk oleh guru. Selain itu dalam proses pembelajaran kebanyakan siswa tidak mau bertanya mengenai materi yang kurang dipahaminya,  disebabkan siswa merasa malu untuk bertanya dan takut dikatakan bodoh oleh temannya.

Rendahnya hasil belajar matematika siswa sangat berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor dari dalam siswa (internal) dan faktor dari luar siswa (eksternal). Faktor internal meliputi aspek fisiologis dan aspek psikologis. Faktor eksternal meliputi lingkungan sosial seperti guru dan nonsosial seperti fasilitas.

Rendahnya hasil belajar matematika siswa dalam hal ini dapat dilihat dari rendahnya nilai rata-rata ujian tengah semester kelas VII SLTPN 26 Padang tahun pelajaran 2007/2008 seperti terlihat pada tabel 1 di bawah ini:

Tabel 1:     Rata-rata Nilai Ujian Tengah Semester Matematika Kelas VII SLTPN 26 Padang.

Kelas VII1 VII2 VII3 VII4 VII5 VII6
Rata-rata 5,78 6,30 6,28 5,93 6,44 5,85

Sumber: Tata Usaha SLTPN 26 Padang.

Guru sebagai faktor yang menentukan dalam pencapaian hasil belajar oleh siswa bukan sekedar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga bertanggung jawab menciptakan kondisi proses pembelajaran yang efektif sehingga dapat melibatkan siswa secara aktif. Guru juga harus memperhatikan tingkat kecerdasan siswa, karena tidak semua siswa mempunyai kecepatan belajar yang sama dalam menerima materi pelajaran. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran guru dituntut mampu memilih strategi mangajar yang sesuai dengan kemampuan siswa, salah satunya adalah strategi pembelajaran aktif tipe true or false.

Strategi tipe true or false merupakan aktifitas collaborative yang dapat mengajak siswa untuk terlibat ke dalam pembelajaran dengan segera. Strategi ini menumbuhkan kerjasama tim, berbagi pengetahuan dan belajar secara langsung. Tetapi penekanan yang lebih kepada suatu proses pembelajaran yang melibatkan proses komunikasi secara menyeluruh dan adil di dalam kelas, serta membantu siswa menemukan sendiri arti belajar yang sesungguhnya secara aktif. Strategi ini akan membantu siswa belajar secara aktif sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing.

Pada pelaksanaan strategi pembelajaran aktif tipe true or false ini guru menyampaikan pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan materi pelajaran, separuhnya benar (true) dan separuhnya lagi salah (false). Pernyataan-pernyataan itu ditulis pada selembar kertas dan siswa diminta untuk mengidentifikasi mana pernyataan benar dan mana yang salah, siswa bebas mengemukakan pendapat untuk menentukan jawaban berdasarkan cara berpikir mereka. Strategi ini lebih diterapkan pada kelompok belajar yang terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa dimana setiap siswa dalam kelompoknya mendapatkan satu kertas yang berisi pernyataan.

Penerapan strategi tipe true or false diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran serta memberi pengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa. Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas penulis melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Strategi Pembelajaran Aktif Tipe True or False Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SLTPN 26 Padang”.

  1. B. Pembatasan Masalah

Agar lebih terfokus masalah ini dan mengingat keterbatasan penulis dari segi ilmu, waktu, tenaga dan dana maka penulis perlu melakukan pembatasan masalah. Pembatasan masalah yang penulis maksud sebagai berikut :

  1. Strategi pembelajaran aktif tipe true or false digunakan dengan berkelompok yang diterapkan pada materi pelajaran matematika.
  2. Hasil belajar yang diteliti adalah hasil belajar matematika siswa kelas VIII SLTPN 26 Padang menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe true or false yang diperoleh siswa setelah diberikan tes pada pokok bahasan yang telah dipelajari siswa.
  3. Aktifitas siswa yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu aktifitas yang dilakukan siswa di dalam kelas, selama proses pembelajaran berlangsung.
  4. C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

  1. Apakah hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe true or false lebih baik dibandingkan siswa yang pembelajarannya secara konvensional pada kelas VIII SLTPN 26 Padang?
  2. Bagaimana aktifitas siswa pada pembelajaran matematika yang menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe true or false?

 

  1. D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe true or false dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada kelas VIII SLTPN 26 Padang.
  2. Untuk mengetahui aktifitas siswa pada pembelajaran matematika yang menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe true or false.
  3. E. Manfaat Penelitian
    1. Bagi siswa, penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan keaktifannya     dalam pembelajaran matematika.
    2. Bakal pengetahuan bagi penulis sebagai calon guru.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KERANGKA TEORITIS

  1. A. Kajian Teori
    1. 1. Pembelajaran Matematika

Belajar merupakan proses yang ditandai oleh adanya perubahan pada diri seseorang. Antara proses belajar dengan perubahan adalah dua gejala saling terkait yakni belajar sebagai proses dan perubahan sebagai bukti dari hasil yang diperoleh. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan, keterampilan, maupun yang menyangkut nilai sikap. Gredler (Djaafar, 2001:82) mengemukakan bahwa “Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap”. Selanjutnya Slameto (2003: 2) juga mengemukakan bahwa “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan”. Dapat dikatakan belajar dapat menghasilkan perubahan misalnya setelah belajar matematika siswa mampu mendemontrasikan pengetahuan dan keterampilan matematikanya dimana sebelumnya tidak dapat melakukannya.

Selain mengelola kegiatan proses pembelajaran, agar tujuan pembelajaran tercapai dengan baik, guru perlu merencanakan pembelajaran itu terlebih dahulu baik dari segi materi maupun cara penyampaian. Penguasaan materi matematika dan cara penyampaiannya merupakan syarat yang tidak dapat ditawar lagi bagi pengajaran matematika. Seorang pengajar matematika yang tidak bisa menguasai materi matematika yang diajarkan, tidak mungkin dapat mengajar matematika dengan baik. Demikian juga seorang pengajar yang tidak menguasai berbagai macam strategi mengajar, ia hanya dapat menyampaikan materi pelajaran sudah terselesaikan bahan yang diajarkan tanpa memperhatikan kemampuan dan kesiapan peserta didik.

Pembelajaran matematika membutuhkan proses bernalar yang tinggi dalam mengaitkan simbol-simbol dan mengaplikasikan konsep-konsep yang ada ke dalam situasi nyata. Untuk itu guru harus menumbuhkan minat dan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika. Salah satu yang dapat dilakukan guru yaitu dengan menggunakan metode dan strstegi mengajar yang tepat agar tercipta kegiatan mental yang tinggi meliputi proses aktif dari dalam diri siswa yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan baru dalam penyelesaian masalah matematika.

Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa siswa harus aktif dan terlibat secara menyeluruh dalam pembelajaran matematika untuk mencapai tujuan pembelajaran.

  1. 2. Strategi Pembelajaran Aktif

Strategi pembelajaran aktif merupakan suatu sistem yang terancang dengan jalinan yang sangat efesien meliputi diri siswa, guru, proses dan lingkungan pembelajaran. Menurut Zaini (2005: xvii) “Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif”.

Agar belajar menjadi aktif, siswa harus menggunakan seluruh kemampuan untuk mengkaji gagasan-gagasan, memecahkan masalah yang diberikan dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif menuntut siswa untuk bersemangat , gesit, menyenangkan dan penuh gairah sehingga siswa merasa lebih leluasa dalam berfikir dan beraktifitas.

Ketika siswa belajar dengan aktif, berati mereka mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan pikiran, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari kedalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, siswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya siswa akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.

Pernyataan inilah yang menjadi paham pembelajaran aktif. Siswa tidak hanya sekedar mendengarkan informasi dari guru, akan tetapi juga melihat apa yang dijelaskan oleh guru, selanjutnya siswa mendiskusukan apa yang mereka pahami dan terakhir dari kegiatan siswa adalah mengungkapkan kembali apa yang telah mereka dapatkan sehingga sangat memungkinkan bagi siswa untuk salaing berbagi informasi. Kenyataan ini sesuai dengan kata-kata mutiara yang diberika oleh seorang filosof keenam dari cina, Konfusius (Zaini, 2005: xvii) dia menyatakan:

Apa yang saya dengar, saya lupa

Apa yang saya lihat, saya ingat

Apa yang saya lakukan, saya paham.

Pertimbangan lain untuk menggunakan strategi pembelajaran aktif adalah realita bahwa siswa mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Ada siswa yang lebih senang membaca, ada yang senang berdiskusi dan ada juga yang senang praktek langsung. Inilah yang sering disebut dengan gaya belajar atau learning style. Untuk dapat membantu siswa dengan memaksimalkan adalah belajar, maka kesenangan dalam belajar itu sebaik mungkin diperhatikan. Untuk dapat mengakomodir kebutuhan tersebut adalah dengan menggunakan variasi strategi pembelajaran yang beragam yang melibatkan indera belajar yang banyak.

Silberman (2004: 63) menyatakan bahwa dalam saat-saat awal dari kegiatan belajar aktif, ada tiga tujuan penting yang harus dicapai, yaitu:

  1. Pembentukan Tim.
  2. Penilaian sederhana.
  3. Keterlibatan belajar langsung.

Jika ketiga tujuan belajar tersebut dapat dicapai, maka hal ini akan sangat membantu dan menciptakan lingkungan belajar yang melibatkan siswa dan meningkatkan keinginan mereka untuk berpartisifasi dalam proses pembelajaran.

  1. 3. Pembelajaran Aktif Tipe True or False

Pembelajaran tipe true or false merupakan salah satu pembelajaran aktif yang di kemukakan oleh Zaini (2005 : 24). Pembelajaran tipe true or false adalah aktivitas kolaboratif (kerjasama) yang dapat mengajak siswa untuk terlibat dalam materi pelajaran. Dengan menggunakan strategi ini guru dapat mengukur atau menilai tingkat kemampuan, pengetahuan dan pengalaman siswa, melalui strategi ini diharapkan siswa akan lebih aktif dan bersemangat dalam pengikuti pembelajaran.

Dalam pelaksanan strategi pembelajaran aktif tipe true or false ini siswa dibagi atas beberapa kelompok kecil yang terdiri atas 4 atau 5 anggota. Setiap siswa akan mendapatkan lembaran yang berisi pernyataan-pernyataan yang menyangkut tentang materi yang diajarkan. Siswa di minta untuk mengidentifikasi mana pernyataan yang benar atau yang salah. Siswa diberikan kesempatan untuk menjawab atau mengemukakan pendapat semampu mereka dalam batas waktu yang telah ditentukan.

Adapun langkah-langkah dari pembelajaran tipe true or false yang dikemukakan oleh Zaini (2005: 24) adalah sebagai berikut:

  1. Buatlah pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan materi pelajaran, separuhnya adalah benar dan separuhnya lagi salah. Misalnya adalah pernyataan;

– Untuk pernyataan yang benar (true) :

Dalam materi eksponensial: “Perkalian dua bilangan pokok yang sama dan mempunyai pangkat berbeda maka pangkatnya dijumlahkan”.

Contoh : a. a = a

– Untuk pernyataan yang salah (false) :

Dalam materi logaritma: “log b = c  a = c”.

Tulislah masing-masing pernyataan pada selembar kertas yang berbeda. Pastikan bahwa pernyataan yang dibuat sesuai dengan jumlah siswa yang ada.

  1. Beri setiap siswa satu kertas kemudian siswa berdiskusi dengan kelompoknya untuk dapat mengidentifikasi mana pernyataan yang benar dan mana yang salah. Jelaskan bahwa siswa bebas menggunakan cara sebaik yang mereka bisa untuk menentukan jawaban.
  2. Jika proses ini selesai, bacalah masing-masing pernyataan dan mintalah jawaban dari kelas apakah pernyataan tersebut benar atau salah.
  3. Beri masukan untuk setiap jawaban, terangkan bahwa cara kerja siswa adalah bekerja bersama dalam tugas.
  4. Tekankan bahwa kerja sama kelompok yang positif akan sangat membantu mereka.

 

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Pada pembelajaran tipe true or false ini siswa dituntut untuk saling bekerja sama di dalam kelompok untuk dapat mengemukakan pendapat mereka dan dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Pembelajaran ini menumbuhkan kerjasama tim, berbagi pengetahuan dan belajar secara langsung. Dalam belajar kelompok, masing-masing anggota belajar dari temannya satu kelompok. Dengan pemahaman materi pelajaran yang baik, siswa dibebaskan untuk menentukan jawaban denga cara mereka sendiri.

Pentingnya hubugan antar teman sebaya di dalam ruang kelas tidaklah dapat dipandang remeh. Jika belajar kelompok dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe true or false dibentuk di dalam kelas, pengaruh teman sebaya itu dapat digunakan untuk tujuan-tujuan positif dalam pembelajaran di dalam kelas. Para siswa termotivasi berlajar secara baik, siap dengan pekerjaannya, dan menjadi penuh perhatian selama jam pelajaran.

  1. 4. Tinjauan tentang Belajar Kelompok

Belajar kelompok adalah salah satu strategi belajar mengajar yang memiliki kadar CBSA atau cara belajar siswa aktif. Dengan adanya belajar kelompok siswa ;lebih aktif dalam belajar karena kemampuan siswa dalam kelompok berbeda-beda, maka dengan belajar kelompok mereka bisa bekerja sama, berbagi kemampuan dan pengetahuan. Pengertian kelompok menurut Johnson and Johson dalam Romlah (1989: 23):

Kelompok adalah dua atau lebih individu berientraksi secara tatap muka, masing-masing menyadari keanggotaannya dalam kelompok, mengetahui dengan pasti individu-individu yang lain yang menjadi anggota kelompok dan masing-masing menyadari saling ketergantungan mereka yang positif dalam mencapai tujuan bersama.

 

Sesuai dengan langkah pada halaman 12, maka pelaksanaan pembelajaran tipe true or false, pada langkah pertama yaitu: pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan materi pelajaran di tulis pada selembar kertas, di mana pernyataan itu terdiri dari pernyataan benar dan pernyataan salah. Langkah kedua siswa dibagi atas beberapa kelompok kecil, pembentukan kelompok kecil lebih diprioritaskan terhadap kemampuan akademik siswa karena yang akan dilihat adalah hasil belajar siswa bila mereka belajar kelompok dengan siswa yang berbeda kemampuan akademik, dalam satu kelompok terdiri dari 4-5 orang yang berkemampuan tinggi, berkemampuan menengah, dan berkemampuan rendah, tiap kelompok terdapat ketua kelompok yang bertugas sebagai penanggung jawab keberhasilan kelompoknya, setiap anggota kelompok akan mendapatkan satu kertas yang berisi pernyataan benar atau salah, mereka diminta untuk mendiskusikan pernyataan yang telah di dapat dengan anggota kelompok masing-masing. Langkah ketiga setelah semua kelompok telah mendapatkan jawaban, salah satu kelompok diminta untuk menampilkan hasil diskusinya, dan meminta pendapat dari semua kelompok terhadap hasil diskusi kelompok yang tampil. Langkah empat guru memberi masukan kepada kelompok yang tampil. Langkah kelima guru menekankan bahwa kerjasama kelompok yang positif akan sangat membantu mereka.

Menurut Semiawan (1992: 67), pengelompokan siswa dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:

  1. Pengelompokan berdasarkan kesenangan berkawan.
  2. Pengelompokkan berdasarkan kemampuan akademik.
  3. Pengelompokkan berdasarkan minat.

Dalam pengelompokkan akademis, kelompok pembelajaran terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang berkemampuan sedang, dan yang lainnya dari berkemampuan rendah (Lie, 2002: 40). Selanjutnya (Lie, 2002: 42) menambahkan bahwa terdapat tiga keuntungan dari pembentukan kelompok heterogen berdasarkan kemampuan akademis yaitu:

  1. Memberi kesempatan untuk saling mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung.
  2. Meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, etnik, dan keturunan/gender.
  3. Memudahkan pengelolaan kelas.

Dengan demikian, pembentukan kelompok cuku efektif dalam melaksanakan proses pembelajaran kelompok kecil. Pembentukkan kelompok ini dilakukan berdasarkan teknik pembentukan kelompok dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif sangat memperhatikan heterogenitas. Maksud kelompok heterogen adalah campuran kemampuan akademik siswa, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin maupun ras. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakang dengan dirinya.

Untuk menentukan anggota kelompok yang heterogen, dalam penelitian ini di lihat pada akademik siswa berdasarkan nilai rapor matematika siswa.

Menurut Nasution (1995: 148) proses belajar kelompok adalah:

Cara individu mengadakan relasi dan kerja sama dengan individu lain untuk mencapai tujuan bersama. Relasi dalam kelompk demokratis, artinya bahwa setiap individu berpartisifasi ikut serta secara aktif dan turut bekerja sama. Dengan demikian individu akan memperoleh hasil belajar yang lebih baik dan mengalami perubahan sikap serta kelakuan.

 

Dalam hal ini proses belajar kelompok mempunyai dua ciri utama yaitu partisifasi oleh siswa dalam segala kegiatan dan kerja sama antara individu-individu dalam kelompok. Proses belajar kelompok memberi kesempatan bagi setiap anak untuk melaksanakan prinsip kerja sama secara demokratis. Untuk mengoptimalkan manfaat pembelajaran aktif yang menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe true or false ini, keanggotaan sebaiknya heterogen, baik dari kemampuannya maupun karakteristik lainnya.

Untuk menjamin  heterogenitas keanggotaan kelompok, maka gurulah yang membentuk kelompok-kelompok tersebut. Jika siswa dibebaskan membuat kelompok sendiri maka biasanya siswa akan memilih teman-teman yang sangat disukainya. Hal ini akan cendrung menghasilkan kelompok-kelompok yang homogen dan seringkali siswa tertentu tidak masuk dalam kelompok manapun. Karena itu cara membebaskan siswa membuat kelompok sendiri bukan merupakan cara yang baik, kecuali guru membuat batasan-batasan tertentu sehingga dapat menghasilkan kelompok-kelompok yang heterogen.

Ukuran (besar-kecil) kelompok akan mempengaruhi pada kemampuan produktivitas kelompoknya. Jika satu kelompok terdiri atas hanya 2 orang maka interaksi antar kelompok akan sangat terbatas ada kelompok itu akan mati jika satu anggotanya absen. Sebaliknya, jika ukuran kelompok itu terlalu besar yang terdiri dari 7 sampai 10 orang maka akan menjadi sangat sulit bagi kelompok itu berfungsi secara efektif, maka agar lebih efektif sebaiknya satu kelompok terdiri dari 4 sampi 5 orang yang digolongkan sebagai kelompok kecil seperti yang digunakan dalam penelitian ini.

  1. 5. Tinjauan tentang Aktifitas

Aktifitas siswa sama maknanya dengan perbuatan, yang menghendaki gerakan fungsi otak individu yang belajar. Aktifitas tersebut menghasilkan perubahan tingkah laku berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan. Aktifitas mutlak diperlukan dalam proses belajar mengajar untuk memperoleh pengetahuan karena esensi dari pengetahuan adalah kegiatan, aktifitas baik secara fisik maupun mental.

Menurut Rosyda (2004:165) pembelajaran aktif adalah:

Belajar yang memperbanyak aktifitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dari berbagai sumber, untuk dibahas dalam proses pembelajaran dalam kelas, sehingga memperoleh berbagai pengalaman yang tidak saja menambah kompetensi pengetahuan, tapi juga kemampuan analisis dan sintesis.

 

Belajar aktif menuntut siswa untuk bersemangat, gesit, menyenangkan, dan penuh gairah, bahkan siswa sering meninggalkan tempat duduk untuk bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about and thiking aloud). Selama proses belajar siswa dapat beraktifitas, bergerak dan melakukan sesuatu dengan aktif, keaktifan siswa tidak hanya fisik tapi juga keaktifan mental. Menurut Suryosubroto (1997:71):

Keaktifan siswa dapat terlihat dari 1) Berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran dengan penuh keyakinan, 2) Mempelajari, memahami, dan menemukan sendiri bagaimana memperoleh situasi pengetahuan, 3) Merasakan sendiri bagaimana tugas-tugas yang diberikan guru kepadanya, 4) Belajar dalam kelompok, 5) Mencobakan sendiri konsep-konsep tertentu, 6) Mengkomunikasikan hasil pikiran, penemuan dan penghayatan nilai-nilai secara lisan atau penampilan.

 

Dalam penelitian ini, aktifitas siswa dalam proses pembelajaran matematika adalah aktifitas yang terjadi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru selama proses pembelajaran strategi pembelajaran aktif tipe true or false berlangsung.

Indikator yang menyatakan aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar menurut Paul B. Diedrich yang di kutip Sardiman (2001: 100) adalah:

  1. Visual activities seperti membaca, memperhatikan gambar, demontrasi, mengamati percobaan.
  2. Oral activities seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi dan intrupsi.
  3. Listening activities seperti mendengarkan uraian, mendengarkan percakapan, mendengarkan diskusi dan mendengarkan pidato.
  4. Writing activities seperti menulis, membuat laporan, mengisi angket, dan menyalin.
  5. Drawing activities seperti menggambar, membuat grafik, membuat peta dan diagram.
  6. Motor activities seperti melakukan percobaan, membuat kontruksi model, dan melakukan demontrasi.
  7. Mental activities seperti menanggapi, mengingat, memecahkan soal/masalah, menganalisa, melihat hubungan dan mengambil keputusan.
  8. Emotional activities seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tegang, dan gugup.

 

Dari uraian di atas maka aktifitas yang akan di bahas adalah visual activities yaitu membaca, oral activities yaitu bertanya, mengeluarkan pendapt dan diskusi, listening activities yaitu mendengarkan diskusi, writing activities yaitu menulis, mental activities yaitu menanggapi, dan emotional activities yaitu semangat, motor activities tidak dibahas karena indikator pada aktifitas siswa tidak melakukan percobaan, kontruksi model dan melakukan demontrasi.

Untuk mengamati aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung maka dilakukan observasi. Observasi dilakukan pada kelas eksperimen dengan 4 orang observer. Aktifitas siswa yang di observasi ditentukan dalam indikator aktifitas. Dalam penelitian ini terdapat 7 indikator aktifitas yang akan diamati oleh observer selama pembelajaran berlangsung. Indikator yang digunakan untuk melihat aktifitas siswa ini didapatkan dari gabungan antara indikator aktifitas menurut Paul B. Diedrich yang di kutip Sardiman (2001: 100) dan langkah-langkah dari pembelajaran tipe true or false yang dikemukakan oleh Zaini (2005: 24), sehingga di dapat indikator yang akan diamati sebagai berikut :

  1. Memperhatikan atau serius dalam mendengarkan penjelasan guru.
  2. Menanggapi pertanyaan dari guru.
  3. Mengajukan pertanyaan kepada guru.
  4. Berdiskusi dan mengerjakan tugas untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kelompoknya.
  5. Mengemukakan pendapat kepada anggota kelompoknya
  6. Menuliskan hasil jawaban kelompoknya di papan tulis
  7. Memberikan pertanyaan atau tanggapan kepaga guru terhadap tugas yang dikerjakan di papan tulis.
  8. 6. Pembelajaran konvensional

Mengajar ditafsirkan sebagai memasukkan isi atau bahan materi dari buku kepada siswa sehingga mereka dapat mengeluarkan kembali segala informasi waktu dites/ujian. Dalam pembelajaran konvensional yang diterapkan di sekolah tempat dilaksanakan penelitian ini, guru mata pelajaran matematika menerangkan konsep di depan kelas, memberikan rumus-rumus, kemudian diterapkan dalam contoh soal dan siswa di minta untuk bertanya mengenai hal yang kurang dimengerti, kemudian mengerjakan latihan-latihan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dinyatakan langkah-langkah pembelajaran konvensional yang digunakan sekarang ini, dikemukakan oleh  Roza (2006:21),  sebagai berikut:

  1. Guru menghubungkan materi pelajaran dengan pengetahuan atau pengalaman yang di miliki siswa.
  2. Guru menyampaikan tujuan dari proses pembelajaran.
  3. Guru menyajikan informasi tahap demi tahap dengan menggunakan metode ekspositori, demontrasi, dan tanya jawab.
  4. Guru memberikan soal latihan kepada siswa dan beberapa orang siswa di pilih untuk mengerjakan soal latihan di depan kelas.
  5. Guru membimbing siswa membuat kesimpulan dari materi yang di pelajari dan memberikan tugas rumah.

Beberapa metode yang biasanya digunakan guru dalam pembelajaran konvensional adalah sebagai berikut:

  1. Metode Ekspositori

Metode ekspositori sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan kepada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Tetapi pada metode ekspositori dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus menerus bicara. Ia berbicara pada awal pembelajaran, menerangkan materi dan contoh soal, dan pada waktu-waktu yang diperlukan saja. Siswa tidak hanya mendengar dan membuat catatan, tetapi juga membuat soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti. Guru dapat memerikasa pekerjaan siswa secara induvidual, menjelaskan lagi kepada siswa secara induvidual atau klasikal. Sesuai yang dikatakan oleh Erman Suherman (2004: 203) bahwa:

Pada metode ekspositori siswa belajar lebih aktif dari pada metode ceramah. Siswa mengerjakan latihan soal sendiri, mungkinjuga saling bertanya dan mengerjakannya bersama dengan temanya, atau di suruh membuat di papan tulis.

 

  1. Metode Demontrasi

Metode demontrasi sejenis dengan metode ceramah dan metode ekspositori. Kegiatan belajar mengajar berpusat pada guru atau guru mendominasi kegiatan belajar mengajar. Tetapi pada metode demontrasi aktivitas siswa lebih banyak lagi dilibatkan, dengan demikian dominasi guru lebih berkurang.

Ciri khas metode demontrasi tampak dari adanya penonjolan mengenai suatu kemampuan, misalnya kemampuan guru membuktikan teorema, menurunkan rumus, atau memecahkan soal cerita. Sedangkan yang berhubungan dengan penggunaan alat, misalnya pemakaian sepasang segitiga untuk membuat lukisan-lukisan geometri, penggunaan daftar, mistar hitung, atau kalkulator untuk melakukan penghitungan.

  1. Metode Tanya Jawab

Umumnya pada setiap kegiatan belajar mengajar ada tanya jawab. Namun, tidak pada setiap kegiatan belajar mengajar dapat disebut menggunakan metode tanya jawab. Misalnya dalam pengajaran dengan metode ekspositori guru mengajukan pertanyaan dan siswa memberikan jawaban. Cara mengajar ini tidak dapat disebut menggunakan metode tanya jawab, walaupun sering terjadi tanya jawab.

Penggunaan teknik tanya jawab biasanya baik untuk maksud-maksud yang diperlukan untuk menyimpulkan atau mengiktiarkan pelajaran atau apa yang di baca, dengan di bantu tanya jawab siswa akan tersusun jalan pikirannya sehingga mencapai perumusan yang baik dan tepat. Menurut Roestiyah (2001: 130) “Tanya jawab dapat membantu tumbuhnya perhatian siswa pada pelajaran, serta mengembangkan kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan pengalamannya, sehingga pengetahuan menjadi fungsional”.

  1. 7. Tinjauan tentang Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar matematika merupakan tolak ukur yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam menguasai suatu materi pelajaran. Sehubungan dengan hal tersebut diatas Hamalik (1992:21) mengemukakan sebagai berikut :

Hasil belajar adalah tingkah laku yang timbul misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, perubahan dalam sikap, kebiasaan, keterampilan, kesanggupan, menghargai, perkembangan sifat-sifat sosial, emosional dan pertumbuhan jasmani.

 

Hasil belajar dapat di peroleh dengan mengadakan evaluasi melalui pemberian tes kepada siswa. Hasil evaluasi ini berapa nilai yang di peroleh siswa dari tes yang diberikan. Dalam penelitian ini hasil belajar yang di maksud adalah nilai yang di peroleh siswa dari tes yang diberikan di akhir pokok bahasan bentuk aljabar.

  1. B. Kerangka Konseptual

Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika siswa dan kurang berkembangnya aktivitas siswa dalam belajar yaitu pemilihan metode mengajar yang kurang tepat, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan dengan optimal dan siswa kurang termotivasi untuk belajar. Strategi pembelajaran aktif adalah salah satu strategi pembelajaran yang banyak melibatkan siswa, siswa di pandang sebagai subjek pembelajaran yang harus banyak berperan dalam aktifitas pembelajaran. Usaha yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan hasil proses pembelajaran dengan menggunakan metode atau strategi yang sesuai salah satunya yaitu strategi pembelajaran aktif tipe true or false.

Penerapan strategi pembelajaran aktif tipe true or false diharapkan dapat meningkatkan keaktivan siswa dan hasil belajar matematika siswa. Untuk melihat apakah penerapan strategi belajar aktif tipe true or false pada pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar siswa, maka dilakukan perbandingan dengan pembelajaran konvensional. Pembelajaran konvensional yang di maksud dalam penelitian ini yaitu pembelajaran yang pelaksanaannya sesuai dengan fakta yang terjadi dilapangan yaitu dengan menggunakan metode ekspositori, demontrasi, dan tanya jawab.

  1. C. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah

  1. Hasil belajar siswa yang pengajarannya mengunakan strategi pembelajaran aktif tipe true or false lebih baik dari pada hasil belajar matematika yang pembelajarannya secara konvensional pada siswa kelas VIII SLTPN 26 Padang.
  2. Aktifitas siswa yang pembelajarannya menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe true or false mengalami peningkatan.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Sudjana (2004:19) mengemukakan bahwa “Eksperimen merupakan metode penelitian yang mengungkapkan hubungan antara dua variabel atau lebih atau mencari pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya”.

Berdasarkan jenis penelitian di atas maka penelitian ini dilakukan terhadap dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen merupakan kelas yang pembelajarannya mengunakan strategi pembelajaran aktif tipe true or false dan kelas kontrol merupakan kelas yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensial.

  1. B. Populasi dan Sampel

1.  Populasi

Populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian. Menurut Sudjana (2004:84) “Populasi adalah seluruh sumber data yang memungkinkan memberi informasi yang berguna bagi masalah pendidikan”. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SLTPN 26 Padang.

Pelaksanaan penelitian ini pada tahun ajaran baru 2008/2009 semester I pada siswa kelas VII SLTPN 26 Padang. Sebagai gambaran populasi dalam penelitian ini, penulis menggunakan data populasi siswa tahun pembelajaran 2008/2009 sebagai berikut:

Tabel 2: Jumlah siswa kelas VIII SLTPN 26 Padang Tahun Ajaran 2008/2009

No Kelas Jumlah
1.

 

2.

 

3.

 

4.

 

5.

 

6.

VIII

VIII

VIII

VIII

VIII

VIII

42

 

40

 

42

42

 

40

 

40

Jumlah 246

Sumber: Tata Usaha  SLTPN 26 Padang

  1. 1. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi, segala karakteristik populasi tercermin dalam sampel yang di ambil.  Sudjana (2004: 84) menyatakan bahwa “Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang memiliki sifat dan karakter yang sama sehingga betul-betul mewakili populasinya”.

Mengingat jumlah anggota populasi yang begitu banyak dan terbatasnya kemampuan penulis dari segi tenaga, dana, dan waktu maka penelitian ini dilakukan terhadap sampel yang mewakili populasi. Agar sampel dapat mewakili dan menggambarkan sifat serta karakteristik dari populasi, maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.

  1. Mengumpulkan nilai rapor matematika siswa kelas VII Semester I yang di dapat dari tata usaha, setelah itu dihitung rata-rata dan simpangan bakunya.
  2. Melakukan uji homogenitas varians dengan menggunakan uji Bartlett dengan langkah-langkah yang dikemukakan Sudjana (2002:263) sebagai berikut:

1)      Menghitung varias gabungan dari semua populasi dengan rumus:

S=

2)      Menghitung harga satuan Bartlett (B) dengan rumus:

B = (log S

3)      Menghitung nilai statistik chi-kuadrat dengan rumus :

c2 =

Kemudian harga  dibandingkan dengan harga  kriteria pengujian terima Ho : , jika < , dengan Ho menyatakan bahwa populasinya mempunyai variansi yang homogen. Setelah dilakukan analisis diperoleh harga c2 =  0,1637 sedangkan  = 11,1 pada taraf nyata a = 0,05 ternyata harga c2 <  maka dapat disimpulkan bahwa populasi mempunyai variansi yang homogen. Analisa dari uji homogenitas variansi dapat dilihat pada lampiran II halaman 63.

  1. Melakukan uji kesamaan rata-rata dengan menggunakan teknik anava satu arah. Adapun langkah-langkahnya seperti yang dikemukakan oleh Sudjana (2002:304-305) adalah sebagai berikut:

1)      Menentukan jumlah kuadrat rata-rata dengan rumus :

JK (R) =

2)      Menghitung jumlah kuadrat antar kelompok dengan rumus :

JK (A) =  – JK (R)

3)      Menghitung jumlah kuadrat total dengan rumus :

JK (T) =

4)      Menghitung jumlah kuadrat dalam kelompok dengan rumus :

JK (D) = JK (T) – JK (A) – JK (R)

5)      Menghitung rata-rata antar kelompok dengan rumus :

RJK (A) =

6)      Menghitung rata-rata kuadrat dalam kelompok dengan rumus :

RJK (D) =

7)      Menghitung nilai F:

F =

8)      Memasukkan hasil perhitungan langkah (1-7) ke dalam tabel analisis variansi untuk uji kesamaan rata-rata.

Tabel 3: Analisis untuk Uji Kesamaan Rata-rata

Sumber variansi DK JK RJK Fhitung
Rata-rata

Antar kelompok

Dalam kelompok

1

5

240

9522,95

6,2604

217,0796

 

1,2521

0,9045

1,3843
Total 246 9746,29    

 

Kriteria pengujian tolak hipotesis Ho jika F >  dengan Ho:, artinya populasi mempunyai kesamaan rata-rata. Setelah dilakukan analisis diperoleh Fhitung = 1,3843 dan F(0.05,5,240) = 2,2525 pada taraf nyata a = 0,05, ternyata Fhitung < F(0,05; 5; 240) maka dapat disimpulkan keenam kelas memiliki rata-rata yang sama. Analisa dari kesamaan rata-rata dapat dilihat pada lampiran III halaman 64.

  1. Menentukan sampel dari populasi

setelah dilakukan uji homogenitas variansi dan uji kesamaan rata-rata didapatkan bahwa populasi homogen dan memiliki rata-rata yang sama. Kemudian untuk menentukan sampel dilakukan secara random dengan menggunakan undian. Hasilnya didapatkan dua kelas untuk dijadikan kelas sampel, yaitu VIII1 dan VIII2. Setelah itu dilakukan undian kembali dan terpilih kelas VIII! sebagai kelas eksperimen sedangkan kelas VIII2 sebagai kelas kontrol

  1. C. Variabel dan Data

1.  Variabel

Variabel merupakan sesuatu yang menjadi objek penelitian, maka dalam penelitian ini ada variabel yang menjadi perhatian utama yaitu variabel bebas dan variabel terikat.

  1. Variabel bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah perlakuan yang diberikan pada sampel penelitian yaitu strategi pebelajaran aktif tipe true or false dan pembelajaran konvensional pada pembelajaran matematika.

  1. Variabel terikat

Variabel terikat pada penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa yang diperoleh berdasarkan tes yang diberikan di akhir penelitian..

2.   Data

  1. Jenis data

1)      Data primer yaitu data tentang hasil belajar matematika siswa yang diperoleh setelah mengadakan eksperimen.

2)      Data sekunder yaitu nilai rapor semester I matematika siswa kelas VIII sebelum penelitian dilakukan.

  1. Sumber data

1)      Sumber data primer berupa hasil tes bersumber dari sampel setelah proses pembelajaran.

2)      Sumber data sekunder bersumber dari kantor tata usaha SLTPN 26 Padang.

  1. D. Pelaksanaan Penelitian

Secara umum pelaksanaan penelitian dapat dibagi atas tiga tahap, yaitu :

1.   Tahap Persiapan

  1. Menetapkan jadwal penelitian.
  2. Mempersiapkan silabus dari materi yang diajarkan.
  3. Mempersiapkan Rencana Pembelajaran (RP) sebagai pedoman dalam proses pembelajaran.
  4. Mempersiapkan hal-hal yang mendukung pembelajaran pada kelas eksperimen yang diberi strategi pembelajaran aktif tipe true or false dan pada kelas kontrol yang diberikan pembelajaran konvensional.
  5. Mempersiapkan instrumen penelitian yang terdiri dari kisi-kisi soal-soal dan kunci jawaban soal uji coba pada kelas sampel. Materi tes mencangkup semua materi pelajaran yang dilaksanakan pada setiap pertemuan.

2.   Tahap Pelaksanaan

a.   Pelaksanaan di kelas eksperimen

Langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut:

  1. Pendahuluan

1)      Guru menentukan anggota kelompok.

2)      Guru menghubungkan materi pelajaran dengan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki siswa.

3)      Menjelaskan prosedur pembelajaran

4)      Memberikan penjelasan pada siswa tentang materi tugas yang diberikan, pekerjaan yang akan diselesaikan.

5)      Menjelaskan prosedur pembelajaran.

  1. Kegiatan inti

1)      Meminta siswa duduk berkelompok yang telah ditentukan

2)      Menjelaskan materi pelajaran dan memberikan beberapa contoh soal dengan menggunakan metode ekspositori dan tanya jawab.

3)      Membagikan kertas yang berisi pernyataan-pernyataan dari beberapa materi pelajaran.

4)      Memberikan setiap siswa satu kertas pernyataan kemudian siswa diminta untuk mengidentifikasi mana pernyataan yang benar dan mana yang salah, siswa bebas mengemukakan pendapat untuk menentukan jawabannya dengan jalan pikiran mereka.

5)      Siswa diminta untuk berdiskusi mengenai pernyataan yang telah didapatkan, meminta siswa untuk memahami pernyataan yang berisi materi pelajaran, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi diskusi kelas.

6)      Bila ada beberapa kelompok yang berbeda pendapat dalam menentukan benar (true) atau salahnya (false) suatu pernyataan, maka kelompok yang berbeda pendapat itu tampil kedepan kelas.

7)      Kemudian kelompok tersebut diminta untuk menuliskan hasil kerja kelompoknya di papan tulis dengan diwakili oleh salah satu anggotanya dan kelompok lain menanggapi hasil kerja kelompok yang tampil.

8)      Guru memberi masukan untuk setiap jawaban.

9)      Guru mengarahkan siswa pada sebuah kesimpulan tentang topik yang dibahas.

  1. Penutup

Untuk mendalami materi yang telah dipelajarinya selanjutnya siswa diberi pekerjaan rumah (PR).

  1. Pelaksanaan pada kelas Kontrol

Gambaran pelaksanaan pada kelas kontrol, sebagai berikut:

  1. Pendahuluan

1)      Guru menghubungkan materi pelajaran dengan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki siswa.

2)      Guru menyampaikan tujuan dari proses pembelajaran.

  1. Kegiatan inti

1)      Guru menjelaskan materi pelajaran tahap demi tahap dengan menggunakan metode ekspositori, demantrasi, dan tanya jawab.

2)      Guru memberikan soal latihan kepada siswa dan beberapa orang siswa dipilih untuk menyelesaikan soal latihan di depan kelas.

  1. Penutup

Guru membimbing siswa membuat kesimpulan dari materi yang dipelajari dan selanjutnya memberikan tugas rumah.

E. Instrumen Penelitian

Untuk memperoleh data tentang hasil belajar matematika siswa, penulis menggunakan alat pengumpul data berbentuk tes hasil belajar.  Lembar observasi digunakan untuk mengetahui perkembangan aktifitas siswa selama proses pembelajarn berlangsung. Maka langkah-langkah yang penulis lakukan adalah sebagai berikut.

  1. 1. Lembar Observasi

Lembar observasi digunakan untuk setiap kali pertemuan pembelajaran dilaksanakan setelah satu pokok bahasan berakhir. Lembar observasi keaktifan siswa memuat indikator-indikator yang mencerminkan keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, dalam satu periode terdapat tujuh indikator yang harus di nilai, dimana diambil dari gabungan antara indikator aktifitas menurut Paul B. Diedrich yang di kutip Sardiman (2001: 100) dan langkah-langkah dari pembelajaran tipe true or false yang dikemukakan oleh Zaini (2005: 24), sehingga di dapat indikator yang akan diamati sebagai berikut :

  1. Memperhatikan atau serius dalam mendengarkan penjelasan guru.
  2. Menanggapi pertanyaan dari guru.
  3. Mengajukan pertanyaan kepada guru.
  4. Berdiskusi dan mengerjakan tugas untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kelompoknya.
  5. Mengemukakan pendapat pada anggota kelompoknya
  6. Menuliskan hasil jawaban kelompoknya di papan tulis
  7. Memberikan pertanyaan atau tanggapan kepaga guru terhadap tugas yang dikerjakan di papan tulis.

Lembar observasi untuk kelas eksperimen dapat dilihat pada lampiran VIII halaman 114.

  1. 2. Tes Hasil Belajar
    1. a. Menyusun tes

Tes yang akan diberikan adalah tes yang berbentuk essay. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun tes tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Menentukan tujuan mengadakan tes yaitu mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran dan melihat apakah strategi yang digunakan berhasi diterapkan.
  2. Membuat batasan terhadap materi pelajaran yang akan diuji.
  3. Membuat kisi-kisi tes hasil belajar matematika.
  4. Menyusun butir-butir soal untuk menjadi bentuk tes akhir yang akan diujikan.
  5. b. Validitas Tes

Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Arikunto (1993: 63) menyatakan bahwa : ”sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur”. Validitas yang digunakan adalah validitas isi (content validity) seperti yang dikemukakan Arikunto (1993: 64) bahwa :

Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena materi yang diajarkan tertera dalam kurikulum maka validitas isi ini sering juga disebut validitas kurikuler.

 

Berdasarkan kutipan di atas, penulis menyusun kisi-kisi tes berdasarkan silabus yang telah dibuat guru.

  1. c. Uji coba tes

Sebelum tes diberikan kepada kelas sampel, tes diuji dulu pada sekolah yang tingkat SKBM-nya hampir sama dengan tempat penelitian, yaitu dilaksanakan dikelas VIII SLTPN 34 Padang. Adapun tujuan dari uji coba tes menurut Hadi (1997) adalah:

  1. Memperbaiki pertanyaan- pertanyaan yang kurang jelas maksudnya.
  2. Memperbaiki pertanyaan- pertanyaan yang bisa menimbulkan jawaban-jawaban yang dangkal.

vii.  Memperbaiki kata- kata yang terlalu asing, akademik atau kata yang menimbulkan kecurigaan.

viii.Menambah item yang sangat perlu atau meniadakan item yang ternyata tidak relevan dengan tujuan penelitian.

 

 

 

  1. d. Analisis Butir Soal

Setelah uji coba dilakukan maka kegiatan selanjutnya adalah melakukan analisis butir soal, untuk melihat keberadaan soal-soal yang disusun baik atau tidak. Arikunto (1993: 209) mengemukakan bahwa :

Tujuan analisis butir soal yaitu untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik, kurang baik, dan soal yang jelek. Dengan analisa soal dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan ”petunjuk” untuk  mengadakan perbaikan.

 

Dalam melakukan analisis butir soal, komponen yang perlu diperhatikan adalah  tingkat kesukaran, dan daya pembeda, serta reliabilitas tes.

  1. i. Tingkat Kesukaran Butir Soal

Untuk mengetahui indeks tingkat kesukaran soal yang berbentuk essay digunakan rumus yang dikemukakan oleh Depdiknas (2001:26-27) yaitu :

Mean =

TK =

Dengan kriteria

Indeks tingkat kesukaran Kriteria
0,00 – 0,30 Soal tergolong sukar
0,31 – 0,70 Soal tergolongs edang
0,71 – 1,00 Soal tergolong mudah

Dari hasil analisis soal uji coba didapatkan 1 buah dengan kriteria mudah, yaitu soal nomor 7b. Ada 13 buah soal dengan kriteria sedang yaitu soal nomor 1a, 1b, 2, 3, 4, 5, 6a, 6b, 7a, 8a, 8b, 9, dan 10. Uraiannya dapat dilihat pada lampiran XIV halaman 145.

  1. ii. Daya Pembeda  Butir Soal

Daya  pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (menguasai materi yang ditanyakan) siswa kurang pandai (belum mengusai materi yang ditanyakan). Untuk mencari indeks daya pembeda ini biasanya juga dinyatakan dalam bentuk proporsi dimana semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin mampu soal yang bersangkutan membedakan siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai.

Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk  essay digunakan rumus yang dikemukakan oleh Depdiknas (2001: 28) yaitu:

DP =

Menurut Depdiknas (2001:28) bahwa klasifikasi daya pembeda soal adalah sebagai berikut:

Kriteria Daya Pembeda

0,40 – 1,00         Butir soal diterima/ baik

0,30 – 0,39         Butir soal diterima/ diperbaiki

0,20 –  0,29         Butir soal diperbaiki

0.00 –  0,19         Butir soal tidak dipakai

Dari analisis yang dilakukan maka didapatkan 6 buah soal diterima, yaitu soal nomor 1a, 1b, 4, 6b, dan 8a. Ada 5 buah soal diperbaiki, yaitu soal nomor 2, 3, 7a, 7b, dan 8a. Sedangkan soal yang tidak dipakai ada 3 buah soal, yaitu soal nomor 5, 6a, dan 10. Uraiannya dapat dilihat pada lampiran XV halaman 146.

Kriteria soal yang dipakai yaitu : memiliki validilitas isi, mempunyai indeks kesukaran 0,15 < Ik < 0,85 dan daya pembeda                                   DP > 20, sehingga di dapat soal yang terpakai ada 10 butir. Hasil analisis jawaban kelompok tinggi (T), kelompok rendah (R), tingkat kesukaran (TK) dan daya pembeda (DP), dari tes uji coba dapat dilihat pada lampiran XVI halaman 148..

  1. iii. Reliabilitas Tes

Menurut Sudjana (2004:120) mengatakan bahwa reliabilitas alat ukur adalah ketetapan atau keajengan alat tersebut dalam mengukur apa yang diukurnya. Artinya, kapan pun alat ukur tersebut digunakan akan memberikan hasil ukur yang sama.

Untuk menentukan reliabilitas tes digunakan rumus yang dikemukakan oleh  Arikunto (1993:109) yaitu :

r

Di mana :

r =          reliabilitas yang di cari

n          =          banyak soal

Si2 =          jumlah varians skor tiap-tiap item

t2 =          varians total

Reliabilitas                        Kriteria

0,80 <r £ 1,00                      Korelasi sangat tinggi

0,60 < r£ 0,80                      Korelasi tinggi

0,40 < r £ 0,60                     Korelasi sedang

0,20 < r£ 0,40                      Korelasi rendah

0,00 < rii £ 0,20                       Korelasi sangat rendah

Soal yang diuji reliabilitasnya hanyalah soal yang dipakai dan termasuk juga soal yang diperbaiki. Maka soal yang akan digunakan untuk diuji reliabilitasnya yaitu soal nomor 1a, 1b, 2, 3, 4, 6b, 7a, 7b, 8a, 8b, dan 9.

Berdasarkan hasil analisis uji coba didapatkan bahwa harga           r11 = 0,68 maka dapat disimpulkan bahwa soal memiliki reliabilitas yang tinggi. Uraian dapat dilihat pada lampiran XVII halaman 149. Sedangkan kisi-kisi soal tes akhir setelah uji coba dapat dilihat pada lampiran XVIII halaman 151 dan soal tes akhir dapat dilihat pada lampiran XIX halaman 152.

 

 

  1. iv. Pelaksanaan Tes Akhir

Setelah melaksanakan proses pembelajaran pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol sama dan pada hari yang sama.maka dilakukan tes. Tes dilakukan pada kedua kelas sampel, baik kelas eksperimen maupu kelas kontrol dengan soal yang sama dan pada hari yang sama. Tes akhir dilakukan pada tanggal 12 Agustus 2008, pada kelas eksperimen jam pelajaran 2 dan 3 (08.45-10,05) dan kelas kontrol jam pelajaran 7 dan 8 (11,30 – 12.50).

F.     Teknik Analisis Data

  1. 1. Analisis Data Aktifitas Siswa

Untuk melihat aktifitas belajar siswa dalam pembelajaran, maka lembar observasi dianalisis dengan cara menentukan persentase siswa yang melakukan aktifitas pada setiap pertemuan yang diamati, dengan teknik persentase yang dikemukakan Sudjana (1990:130) yaitu:

P% =  x 100%

Keterangan:

P% = Persentase siswa yang aktif

F    = Jumlah siswa aktif

N   = Jumlah siswa seluruhnya

Penilaian keaktifan Menurut Dimiati dan Mujiono (1994:115) adalah:

1% – 25%        : Sedikit sekali Aktifitas

26% – 50%      : Sedikit Aktifitas

51% – 75%      : Banyak Aktifitas

76% – 99%      : Banyak sekali Aktifitas

Apabila pada analisis suatu indikator lembar observasi ditemukan 0% aktivitas yang dilakukan siswa untuk suatu indikator, maka bearti tidak ada satupun yang melakaukan aktivitas untuk indikator tersebut. Perhitungan persentase jumlah siswa yang melakukan aktifitas pada setiap pertemuan untuk setiap indikator bertujuan agar dapat dilihat ada atau tidaknya terjadi peningkatan persentase jumlah siswa yang melakukan aktifitas untuk setiap pertemuan yang terdapat pada setiap indikator aktifitas.

  1. 2. Analisis Data Hasil Belajar
    1. a. Uji Normalitas

Melakukan uji normalitas terhadap masing-masing kelompok data dengan menggunakan uji Liliefors. Dalam uji normalitas akan diuji hipotesis bahwa sampel berasal dari populasi berdistribusi normal. Untuk pengujian hipotesis ini menurut Sudjana (2002:466-477) mengemukakan langkah-langkah uji liliefors sebagai berikut :

  1. Data x1, x2, x3, …, xn diperoleh dan disusun dari data yang terkecil sampai yang terbesar.
  2. Data x, x, x,…, xdijadikan nilai baku z, z, z,…, z dengan menggunakan rumus:

Zi =

Dimana :

S             = Simpangan baku

= Skor rata-rata

Xi = Skor dari tiap soal

  1. Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku dihitung peluang

F(Zi) = P (Z £ Zi)

  1. Menghitung jumlah proporsi skor baku yang lebih kecil atau sama Zi yang dinyatakan dengan S (Zi) dengan menggunakan rumus :

 

  1. Menghitung selisih antara F(Zi) dengan S(Zi) kemudian tentukan harga mutlaknya.
  2. Ambil harga mutlak yang terbesar dari harga mutlak selisih itu diberi simbol L0 jadi L0 = maks
  3. Kemudian bandingkan L0 dengan nilai kritis L yang diperoleh dari daftar nilai kritis untuk uji Lilliefors pada taraf a = 0,05. Kriterianya adalah terima Ho bahwa populasi berdistribusi normal jika L0 < Ltabel.

 

 

  1. b. Uji Homogenitas Variansi

Uji homogenitas variansi bertujuan untuk melihat ke dua kelompok sampel mempunyai variansi yang homogen atau tidak. Untuk mengujinya digunakan uji F. Dalam hal ini akan diuji H0 : s12 = s 22 di mana s12 dan s22 adalah variansi baku dari masing-masing kelompok.

Rumus yang digunakan untuk menguji hipotesis ini menurut Sudjana (2002:249) adalah :

F =

Dengan :

S12 = Variansi hasil belajar kelompok eksperimen

S22 = Variansi hasil belajar kelompok kontrol

Kriteria pengujian adalah terima hipotesis H0 jika:  < F <  dan tolak untuk hal yang lain.

  1. c. Uji Perbedaan Rata-rata

Untuk menentukan apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa dari kedua kelompok sampel tersebut, dilakukan uji perbedaan  rata-rata (uji pihak kanan). Pasangan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:

H  :    artinya hasil belajar matematika siswa yang menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe true or false tidak lebih baik dari hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

H : >    artinya hasil belajar matematika siswa yang menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe true or false lebih baik dari hasil belajar matematika siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

Jika data berdistribusi normal dan mempunyai variansi homogen, maka uji statistik yang digunakan menurut Sudjana (2002:239) adalah :

dengan  S =

Dimana :

= Nilai rata-rata kelompok eksperimen

= Nilai rata-rata kelompok kontrol

n = Jumlah siswa kelompok eksperimen

n = Jumlah siswa kelompok kontrol

S    = Variansi hasil belajar kelas eksperimen

S = Variansi hasil belajar kelas kontrol

S       = Simpangan baku kedua kelompok data

 

Kriteria:

Terima hipotesis Ho jika  dengan dk = (n1 + n2-2), selain itu Ho ditolak.

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s