MAKALAH FILSAFAT ILMU “TEHNIK PENULISAN ILMIAH DAN NOTASI ILMIAH” PASCASARJANA UNP’09

BAB I

TEKNIK PENULISAN ILMIAH DAN NOTASI ILMIAH

  1. A. PENDAHULUAN

Menulis karya ilmiah tidak sama dengan menulis tulisan popular.  Menulis karya ilmiah mempunyai aturan-aturan dan teknik tertentu yang harus diikuti.  Dalam dunia ilmiah kita ketahui bahwa ilmu dan  pengetahuan didahului oleh ilmu dan pengetahuan sebelumnya, sehingga sebelum menulis tentu didahului dengan mengumpulkan informasi ilmu dan pengetahuan sebelumnya, sehingga menulis tidak dapat dipisahkan dengan membaca.  Dalam dunia perpustakaan istilah pencarian informasi dikenal dengan penelusuran literatur.  Maka beruntunglah pustakawan cukup mempunyai bekal dengan memiliki pengetahuan penelusuran literatur.

Menulis harus diawali dengan munculnya ide/gagasan tentang suatu topik.  Ide/gagasan muncul bisa dari si penulis sendiri tetapi dapat juga atas permintaan. Gagasan atau ide dapat diciptakan oleh si calon penulis dengan cara membaca situasi/kondisi atau membaca-baca literatur. Selanjutnya adalah tergantung mengembangkan ide dan hasil penelusuran menjadi bermanfaat melalui suatu tulisan.

Tulisan karya ilmiah sama pentingnya dengan pelaksanaan penelitian karena hasil penelitian yang tidak dituangkan kedalam laporan atau bahkan diterbitkan orang tidak akan tahu apa yang telah dilakukan.  Oleh karena itu menulis harus dipahami oleh orang yang membacanya. Menulis tulisan ilmiah yang efektif tidaklah mudah.  Pada umumnya tulisan yang baik akan  dapat dibaca dan dipahami oleh orang yang bukan bidangnya stsu orang yang baru mempelajarinya.

Penulisan ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Tata bahasa merupakan ekspresi dari logika berfikir, tata bahasa yang tidak cermat merupakan pencerminan dari logika berfikir yang tidak cermat pula. Oleh sebab itu langkah pertama dalam menulis karangan ilmiah yang baik adalah mempergunakan tata bahasa yang benar. Demikian juga  penggunaan kata harus dilakukan secara tepat artinya kita harus memilih kata-kata yang sesuai dengan pesan apa yang ingin disampaikan.

 

  1. B. MASALAH

Suatu tulisan ilmiah akan dibaca oleh orang lain, bahkan akan diguanakan sebagai acuan dalam sebuah penulisan.  Dalam ilmu perpustakaan dikenal dengan istilah sitiran.  Penggunaan sumber referensi tulisan orang berarti menyitir (citing), sedangkan tulisan yang digunakan sebagai acuan dinamakan disitir (Cited).  Oleh sebab itu sebelum memulai menulis diperlukan persiapan terlebih dahulu. Tulisan yang tidak rapi, membingungkan, mengaburkan dan menyesatkan   pembaca hampir pasti akan berdampak yang buruk pada masyarakat ilmiah.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. TEKNIK PENULISAN ILMIAH

Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yakni gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber dari pengetahuan ilmiah yang dipergunakan dalam penulisan. Komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan tepat yang memungkinkan proses penyampaian pesan yang besifat reproduktif dan impersonal. Bahasa yang dipergunakan harus jelas dimana pesan mengenai objek yang ingin dikomunikasikan mengandung informasi yang disampaikan sedemikian rupa sehingga si penerima betul-betul mengerti aka nisi pesan yang disampaikan kepadanya.

Penulisan ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Tata bahasa merupakan ekspresi dari logika berfikir, tata bahasa yang tidak cermat merupakan pencerminan dari logika berfikir yang tidak cermat pula. Oleh sebab itu langkah pertama dalam menulis karangan ilmiah yang baik adalah mempergunakan tata bahasa yang benar. Demikian juga  penggunaan kata harus dilakukan secara tepat artinya kita harus memilih kata-kata yang sesuai dengan pesan apa yang ingin disampaikan. Contohnya kita harus menyampaikan pesan bahwa kita ingin makan dan memilih kata “haus” sebagai symbol pembawa pesan tersebut, pemilihan kata “haus” tidak tepat karena mengandung pengertian “ingin minum” dan bukan “ingin makan”. Pengetahuan ilmiah penuh dengan terminology-terminologi yang kadang-kadang penafsirannya berbeda antara seorang ilmuan dengan ilmuan yang lain. Untuk menghindarkan salah tafsir itu maka sebaikanya kita menjelaskan  pengertian yang dikandung terminology yang kita pilih itu. Penjelasan ini pada hakikatnya berlaku dalam seluruh proses komunikasi ilmiah. Contohnya, kita menyatakan bahwa “ orang itu pulang dari Surabaya ke Jakatra naik kereta ekspres koboi” maka segera kita kenali bahwa terminology “ kereta ekspres koboi” itu membutuhkan penjelasan. Untuk itu maka kaliamat tersebut kita sambung dengan pernyataan yang bersifat menjelaskan, “kereta ekspres koboi adalah kereta api ekspres Surabaya-Jakarta yang berjalan pada siang hari”.

Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bahwa si penerima pesan mendapatkan kopi yang benar-benar sama dengan prototype yang disampaikan pemberi pesan. Dalam komunikasi ilmiah tidak boleh mendapat penafsiran yang lain selain isi yang di kandung oleh pesan tersebut, sedangkan komunikasi estetik sering terdapat penafsiran yang berbeda terhadap obyek komunikasi yang sama, yang disebabkan oleh penjiwaan yang berbeda terhadap obyek estetik yang diungkapkan. Komunikasin ilmiah memang tidak ditujukan kepada penjiwaan melainkan kepada penalaran dan oleh sebab itu harus dihindarkan setiap bentuk pernyataan yang tidak jelas dan bermakna jamak. Proposisi ilmiah, umpamanya, harus merupakan pernyataan yang mengandung penilaian apakah materi yang dikandung pernyataan itu benar atau salah, namun tidak bias keduanya. Demikian juga harus dihindarkan bentuk komunikasi yang mempunyai konotasi emosional.

Komunikasi ilmiah harus  bersifat impersonal, dimana bebeda denga tokoh dalam sebuah novel yang bias berupa “aku”, “dia”, atau “Dokter Faus”, merupakan figur yang muncul secara dominan dalam seluruh pernyataan. Kata ganti perorangan hilang dan ditempati oleh kata ganti universal yakni “ilmuan”. Contoh lain, kita tidak menyatakan proses pengumpulan data dengan kalimat seperti “saya bermaksud mengumpulkan data dengan mempergunakan kuesioner” melainkan dengan kalimat yang impersonal yakni “data akan dikumpulkan dengan mempergunakan kuesioner”. Dalam hal ini maka yang mengumpulkan data adalah “ilmuan” atau “peneliti” yang tidak dinyatakan secara tersurat.

Pernyataan ilmiah yang kita pergunakann dalam tulisan harus mencakup beberapa hal. Pertama, harus dapat kita identifikasikan orang yang membuat penyataan tersebut. Kedua, harus dapat kita identifikasikan media komunikasi ilmiah dimana perrnyataan itu disampaikan apakah itu makalah, buku, seminar, localkarya, dan sebagainya. Ketiga, harus dapat kita identifikasikan lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut beserta tempat berdomisili dan waktu penerbitan itu dilakukan. Sekiranya pernyataan ilmiah itu tidak diterbitkan melainkan disampaikan dalam bentuk makalah untuk seminar atau lokalkarya maka harus disebutkan tempat, waktu dan lembaga yang melakukan kegiatan tersebut.

Cara kita mencantumkan ketiga hal tersebut dalam penulisan ilmiah disebut teknik notasi ilmiah. Terdapat bermacam-macam teknik notasi ilmiah yang pada dasarnya mencerminkan hakikat dan unsure yang sama meskipun dinyatakan dalam format dan symbol yang berbeda-beda.

Teknik notasi ilmiah mengunakan catatan kaki (footnote). Variasi-variasi dari sebuah teknik notasi ilmiah biasanya dimungkinkan dan pengetahuan yang mendalam mengenai dasar-dasar pemikiran dari teknik tersebut akan mendorong kita untuk memilih variasi yang tepat. Dalam teknik notasi ilmiah dengan menggunakan catatan kaki terdapat dua variasi. Variasi pertama ialah bahwa catatan kaki itu ditaruh dalam halaman yang sama, sedangkan dalam variasi yang kedua catatan kaki itu seluruhnya dikelompokkan dan ditaruh pada akhir sebuah bab.

Sebelum kita memilih salah satu dari dua variasi tersebut maka ada baiknya kita ketahui fungsi dari catatan kaki itu. Fungsi pertama dari catatan kaki adalah sebagai sumber informasi bagi pernyataan ilmiah yang dipakai dalam tulisan kita. Sekiranya seluruh catatan kaki kitagunakan untuk itu maka tidak ada salahnya seluruh catatan kaki itu kita kelompokkan dan ditaru diakhir bab, sebab sekiranya diperlukan maka pembaca melihanya di halaman belakang. Keuntungan lainnya dari cara seperti ini adalah teknik pengetikkan yang lebih mudah.

Fungsi kedua dari catatan kaki yakni sebagai tempat bagi catatan-catatan kecil, yang sekiranya diletakkan dalam tubuh utama laporan, akan mengganggu keseluruhan penulisan. Dalam penulisan bidang-bidang tertentu seperti sejarah, antropologi, atau ilmu pendidikan, catatan tambahan seperti ini memang peran yang penting. Betapa seringnya kita dihadapkan dengan keinginan untuk memberikan catatan dalam krangka memperkaya kandungan sebuah pernyataan tanpa merusak keseluruhan bentuk pernyataan tersebut. Catatan seperti ini dapat pula diletakkan dalam catatan kaki, namun sekiranya catatan kaki yang mengandung keterangan yang bersifat memperkaya ini di letakkan di halaman belakang, kemungkinan besar keterangan tambahan ini tidak akan terbaca. Dengan demikian tujuan catatan kaki itu juga dimaksudkan untuk memberikan catatan tambahan, sebaiknya catatan kaki diletakkan dalam halaman yang sama, meskipun jadi agak sukar dalam melakukan pengetikan.

Pada dasarnya, sekiranya kita menggunakan pernyataan orang lain dalam tulisan kita, kitipan yang dipinjam itu dapat berupa ‘kutipan langsung” atau “kutipan tidak langsung”. Kutipan langsung merupakan pernyataan yang kita tulis dalam karya ilmiah dalam susunan kalimat aslinya tanpa mengalami perubahan sedikit pun. Sedangakan dalam kutipa tidak langsung kita mengubah susunan kalimat yang asli dengan susunan kalimat kita sendiri.

Kutipan langsung kadang-kadang memang diperlukan dengan tujuan untuk mempertahankan keaslian pernyataan itu. Gabungan antara kutipan tidak langsung dan kutipan langsungsering dipergunakan untuk memadukan antara gaya penulisan seseorang dengan pernyataan orang lain yang inginyang ingin dipertahankan keasliannya, umpamanya dalam kalimat: perbuatan seorang pembunuh yang memotong-motong orang itu sungguh merupakan “kebiadapan orang biadap” dan “puncak tindak kriminal” tahun ini. Dalam pernyataan tersebut kita mencoba untuk mempertahankan keaslian pernyataan yang bersifat otentik seperti “kebiadapan orang biadap” dan “puncak tindak kriminal” dengan mengutipnya secara langsung. Kutipan langsung yang jumlahnya kurang dari empat baris diletakkan dalam tubuh tulisan dengan menggunakan tanda kutip. Untuk kutipan langsung yang terdiri dari empat baris kalimat atau lebih maka keseluruhan kutipan tersebut diletakkan dalam tempat tersendiri.

  1. B. TEKNIK NOTASI ILMIAH

Tanda catatan kaki diletakkan di ujung kaliamat yang kita kutip dengan mempergunakan angka arab yang di ketik naik setengah spasi. Catatan kaki pada bab di beri nomor urut mulai dari angka 1 sampai habis dan diganti dengan nomor 1 kembali pada bab yang baru. Satu kalimat mungkin terdiri dari beberapa catatan kaki sekiranya kalimat itu terdiri dari beberapa kutipan. Dalam keadaan seperti ini maka tanda catatan kaki diletakkan di ujung kalimat yang dikutip sebelum tanda baca penutup. Sedangakan satu kalimat yang seluruhnya terdiri dari satu kutipan tanda catatan kaki diletakkan sesudah tanda baca penutup kalimat. Contohnya:

Larrabee mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang dapat diandalkan1 sedangakan Richter melihat ilmu sebagai sebuah metode2 dan Conant mengidentifikasikan ilmu sebagai serangkaian konsep sebagai hasil dari pengamatan dan percobaan3.

 

Sekiranya kalimat diatas dijadikan menjadi tiga buah kalimat yang masing-masing mengandung sebuah kutipan maka tanda catatan kaki ditulis sesudah tanda baca penutup:

Larrabee mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang dapat diandalkan.1 sedangakan Richter melihat ilmu sebagai sebuah metode.2 dan Conant mengidentifikasikan ilmu sebagai serangkaian konsep sebagai hasil dari pengamatan dan percobaan.3

Kaliamat yang kita kutip harus dituliskan sumbernya secara tersurat dalam catatan kaki sebagai berikut:

1) Harlod A. Larrabee, Reliable Knowledge (Boston; Houghton Miffin, 1964). hlm 4.

2) Maurice N. Richter, Jr. Science as a Cultural Process (Cambridge: Schenkman, 1972). hlm 15.

3) James B Conant. Science and Common Sense (New Haven: Yale University Press, 1961). hlm 25.

 

Catatan kaki ditulis dalam satu spasi dan dimulai langsung dari pinggir, atau dapat dimulai setelah beberapa ketukan tik dari pinggir, asalkan dilakukan secara konsisten.

Nama pengarang yang jumlahnya sampai tiga orang dituliskan lengkap sedangkan jumlah pengarang yang lebih dari tiga orang hanya ditulis nama pengarang pertama di tambah kata et al. (et alii: dal lain-lain).

4) William S. Shakian dan Mabel L. Sahakian. Realms of Philosophy (Cambridge Schkenkman, 1965)

5) Ralph M. Blake, Curt J. Ducasse and Edward H. Madden. Theories of Scientific Method (Seattle: the University of Washington Press, 1966)

6) Sukarno et. Al. Dasar-Dasar Pendidikan Science (Jakarta: Bhratara, 1973).

Kutipan yang diambil dari halaman tertentu disebutkan halamannya dengan singkatan p (pagina) atau hlm. (halaman). Sekiranya kutipan itu disarikan dari beberapa halaman umpamanya dari halaman 1 sampai dengan 5 maka ditulis pp. 1-5 atau hlm. 1-5. Jika nama pengarangnya tidak ada maka langsung saja dituliskan nama bukunya atau dituliskan Anom. (Anomymous) di depan nama buku tersebut. Sebuah buku yang diterjemahkan harus ditulis baik pengarang maupun terjemah buku tersebut sedangkan sebuah kumpulan karangan cukup disebutkan nama editornya seperti contoh berikut;

7) Rencana Strategi Pendidikan dan Kebudayaan (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976).

8) E.F. Schumacher, Keluar dari Kemelut. Terjemahan Mochtar Pabotinggi (Jakarta: I P3ES, 1981).

9) James R. Newman (ed), What is Science? (New York: Simon and Schuster, 1955).

Sebuah makalah yang dipublikasikan dalam majalah, Koran, kumpulan karangan atau disampaikan dalam forum ilmiah ditulis dalam tanda kutip yang disertai informasi mengenai makalah tersebut:

10) Karlina, “Sebuah Tanggapan : Hipotesis dan Setengah Ilmuan”, Kompas 12 Desember 1981, hlm 4.

11) LiekWilardjo, “Tanggung Jawab Sosial Ilmuan”, Pustaka, th. III No. 3 April 1979, hlm. 11-14.

12) M. Sastrapratedja, “Perkembangan Ilmu dan Teknologi dalam Kaitannya dengan Agama dan Kebudayaan”, makalah disampaikan dalam Kogres Ilmu pengetahuan Nasional (KIPNAS) III, LIPI, Jakarta, 15-19 September 1981.

13) B. Suprapto, “Aturan Permainan dalam Ilmu-Ilmu Alam”, Ilmu dalam Perspektif, ed. Jujun S. Suriasumantri (Jakarta: Gramedia, 1978) hlm. 129-133.

Pengulangan kutipan denga sumber yang sama dilakukan dengan memakai notai op. cit. (opera citato: dalam karya yang telah di kutip), loe. cit. (loco citato: dalam tempat yang telah dikutip dan ibid. (ibidem: dalam tempat yang sama). Untuk pengulangan maka nama pengarang tidak ditulis lengkap melainkan cukup nama familinya saja. Sekiranya pengulangan dilakuakan dengan tidak diselang oleh pengarang lain maka dipergunakan notasi ibid. Seperti dalam contoh berikut:

14) Ibid, hlm. 131.

Artinya kita mengulangi kutipan dari karang B. Suprapto seperti tercantum dalam catatan kaki nomor 13 meskipun dengan nomor halaman yang berbeda. Sekiranya kita mengulang kutipan M. Sastrapratedja dalam catatan kaki nomor 12 terhalang oleh karangan B. Suprapto maka kita tidak menggunakan ibid. malainkan loc. cit. seperti contoh dibawah ini:

15) Sastrapratedja, loc. cit.

Ulangan halaman yang berbeda dan telah diselang oleh pengarang lain ditulis dengan mempergunakan op cit.:

16) Wilardjo, op. cit. hlm 12.

Sekiranya dalam kitipan kita dipergunakan seorang pengarang yang menulis bebrapa karangan maka untuk tidak membingungkan sebagai pengganti loc. cit atau po. cit. dituliskan judul karangannya. Bila judul karangan itu panjang maka dapat dilakukan penyingkatan selama itu mampu menunjukan identifikasi judul karangan yang lengkap seperti:

17) Larrabee, Reliable Knowledge, hlm 6.

Kadang-kadang kita ingin mengutip sebuah pernyataan yang telah dikutip dalam karangan yang lain. Untuk itu maka kedua sumber itu kita tuliskan sebagai berikut:

18) Robert K. Merton, “The Ambivalence of Scientist”, hlm. 77-79, di kutip langsung (atau tiadak langsung) oleh Maurice N. Richter, Jr., Science as a Cultural Process (Cambridge: Schenkman, 1972), hlm. 114.

Semua kutipan tersebut diatas, baik yang dikutip secara langsung maupun tidak langsung, sumbernya kemudian kita sertakan dalam daftar pustaka. Hal ini kita kecualikan untuk kutipan yang tidak kita dapatkan dari sumber kedua sebagaimana tampak dalam catatan kaki nomor 18. Terdapat perbedaan notasi bagi penulisan sumber dalam referensi pada catatan kaki dan referensi daftar pustaka. Dalam catatan kaki maka nama pengarang dituliskan lengkap dengan tidak mengalami perubahan apa-apa. Sedangakan dalam daftar pustaka nama pengarang harus disusun berdasarkan abdjad huruf awal nama familinya. Tujuan uatam dari catatan kaki adalah mengidentifikasikan lokasi yang spesifik dari karya yang dikutip. Di pihak lain, tujuan utama dari daftar pustaka ialah mengidentifikasikan karya ilmiah itu sendiri. Untuk itu maka dalam daftar pustaka tanda kurung yang menbatasi penerbit dan domisili penerbit tersebut dihilangkan dan serta demikian juga lokasi halaman. Dengan demikian catatan kaki (CT) nomor 1, 4, 5, 6, 9, 11, dan 13 bila dimasukakan dalam daftar pustaka (DP) berubah sebagai berikut:

1)      CT    :            Harold A. Larrabee, Reliable Knowledge

(Boston: Houghton Mifflin, 1964), hlm. 4

DP   :   Larrabee, Harold A. Reliable Knowledge. Boston: Houghton Mifflin, 1964

4)      CT   :            William S. Sahakian dan Mabel L. Sahakian, Realms

of Philosophy (Cambridge: Schenkman, 1965).

DP   :   Sahakian, William S., dan Sahakian, Mabel L.

Realms of  of Philosophy. Cambridge: Schenkman, 1965

5)      CT  :             Ralph M. Blake, Curt J. Ducasse dan Edward H. Madden, Theories of

Scientific Method (Seattle: The University of Washington Press, 1966).

DP    :   Blake, Ralph M., Ducasse, Curt J., dan

Edward H. Theories of Scientific Method.

Seattle: The University of Washington Press, 1966

6)      CT    :             Sukarno et. al., Dasar-dasar Pendidikan Science (Jakarta: Bharata, 1973)

DP    :             Sukarno, et. al., Dasar-dasar Pendidikan Science. Jakarta: Bharata, 1973.

9)      CT    :              James R. Newman (ed). What is Science? (New York: Simond and Schuster. 1955)

DP    :             Newman, James R. (ed), What is Science? New York: Simond and Schuster. 1955

11)  CT    :              Liek Wilardjo, “Tanggung Jawab Sosial Ilmuan”, Pustaka, Th. III No. 3, April 1979,

hlm. 11-14.

DP    :    Wilardjo, Like. “Tanggung Jawab Sosial Ilmuan”, Pustaka, Th. III No. 3, April 1979,

hlm. 11-14.

13)  CT    :              B. Suprapto, “Aturan Permainan dalam Ilmu-ilmu Alam”, Ilmu Dalam Perspektif,

ed. Jujun S. Suriasumantri (Jakarta: Gramedia, 1978), hlm. 129-133.

14)  DP   :    Suprapto, B. “Aturan Permainan dalam Ilmu-ilmu Alam”, Ilmu Dalam Perspektif,

ed. Jujun S. Suriasumantri, hlm. 129-133. Jakarta: Gramedia, 1978.

Daftar pustaka itu kemudian diurut berdasarkan huruf pertama dari nama family pengarangnya. Demikian secara singkat telah dibahas salah satu contoh teknik notasi ilmiah yang biasa dilakukan dalam penulisan ilmiah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A. KESIMPULAN

Teori penulisan ilmiah baik berupa karya tulis maupun karya ilmiah lainnya sangatlah luas untuk dipelajari yaitu mulai dari penyiapan, struktur format, aturan penulisan sampai pada penggunaan gaya bahasa .  Namun hal yang sangat penting adalah latihan dan membiasakan diri untuk menulis, karena menyampaikan teori penulisan sama saja dengan menyampaikan teoti cara berenang.  Teori ini tidak akan dapat bermanfaat apabila tidak langsung dipraktekan atau latihan.  Dari latihan akan muncul pengalaman-pengalaman dan akan semakin baik.  Banyak buku yang membahas teori penulisan dari sudut pandang yang berbeda-beda.  Makalah ini adalah sebagian kecil dari teori penulisan ilmiah secara keseluruhan, karena Diklat ini dikhususkan untuk para pustakawan sehingga lebih banyak ditujukan bagi pustakawan Indonesia.

Pada dasarnya, sekiranya kita menggunakan pernyataan orang lain dalam tulisan kita, kitipan yang dipinjam itu dapat berupa ‘kutipan langsung” atau “kutipan tidak langsung”. Kutipan langsung merupakan pernyataan yang kita tulis dalam karya ilmiah dalam susunan kalimat aslinya tanpa mengalami perubahan sedikit pun. Sedangakan dalam kutipa tidak langsung kita mengubah susunan kalimat yang asli dengan susunan kalimat kita sendiri.

 

  1. B. SARAN

sebelum memulai menulis diperlukan persiapan terlebih dahulu, berikut adalah petunjuk penyiapan penulisan ilmiah:

  1. Mengorganisir informasi
  2. Mengidentifikasi pembaca
  3. Menetapkan tujuan

Menentukan subjek, masalah khusus yang menjadi isue,  apa yang telah       dihasilkan pada karya terdahulu, metode apa yang akan digunakan untuk mencapai tujuan.

  1. Membuat outline

Biasanya satu atau dua halaman akan merinci atau membagi item menjadi item yang lebih kecil.  Selain itu juga untuk menghindari overlaping isi tulisan.

  1. Kejelasan

Tulisan yang tidak rapi, membingungkan, mengaburkan dan menyesatkan pembaca hampir pasti akan berdampak yang buruk pada masyarakat ilmiah .

  1. Kejujuran dan kepercayaan

Dengan membaca artikel yang ditulis diharapkan akan menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pemcacanya.  Hindari istilah yang menyangatkan atau luar biasa.

  1. Penyusunan draf pertama kemudian dikoreksi ulang selanjutnya penyelesaian akhir penulisan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Jujun S. Suriasumantri. 1999. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s