TESIS KU

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Sain (IPTEKS) sangat pesat terutama dalam bidang telekomunikasi dan informasi. Sebagai akibat dari kemajuan teknologi komunikasi dan informasi tersebut, arus informasi datang dari berbagai penjuru dunia secara cepat dan melimpah ruah. Untuk tampil unggul pada keadaan yang selalu berubah dan kompetitif ini, kita dituntut memiliki kemampuan memperoleh, memilih dan mengelola informasi, kemampuan untuk dapat berfikir secara kritis, sistematis, logis, kreatif, dan kemampuan untuk dapat bekerja sama secara efektif. Sikap dan cara berpikir seperti ini, salah satunya dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran matematika, karena matematika memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat serta jelas antar konsepnya sehingga memungkinkan siapapun yang mempelajarinya terampil berpikir rasional.

Matematika merupakan bahasa simbolis untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan, yang memudahkan manusia berfikir dalam memecahkan masalah. Untuk itu, proses pembelajaran matematika di sekolah perlu diarahkan untuk membantu siswa menggunakan daya intelektualnya dalam belajar. Dengan adanya tujuan pembelajaran matematika di sekolah, menuntut siswa memiliki kemampuan matematika yang memadai sehingga berbagai kompetensi yang diharapkan dapat tercapai dengan baik dan optimal. Namun, pada kenyataannya masih banyak pembelajaran matematika di sekolah merupakan hal yang sangat serius untuk diprthatikan dan diperbaiki.

Melihat besarnya peranan matematika dalam perkembangan ilmu pengetahuan, perlu dilakukan berbagai usaha guna meningkatkan mutu pendidikan matematika, agar tercipta peserta didik yang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam bidang matematika. Peningkatan mutu pendidikan matematika bukan hanya kewajiban pemerintah tetapi juga merupakan kewajiban guru, karena guru memegang peranan utama dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Salah satu usaha yang dapat dilakukan guru yaitu meningkatkan mutu proses pembelajaran dengan menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang tepat.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis sebagai guru matematika X1 SMA Bunda Padang, sebagian besar pembelajaran di kelas masih beroreantasi pada guru, serta aktivitas siswa dalam pembelajaran masih rendah. Ini terlihat dari aktivitas siswa yang hanya mencatat, mendengar, sedikit bertanya dalam diskusi. Pembelajaran matematika selama ini diberikan dengan cara semua materi dijelaskan pada siswa, pemberian contoh-contoh soal, kemudian pemberian latihan soal. Pada saat guru memberikan soal yang agak sedikit berbeda dengan contoh soal tersebut, tetapi masih dalam satu ruang lingkup konsep yang sama, hanya beberapa siswa saja yang dapat menyelesaikannya dengan benar. Berdasarkan hasil konsultasi dan diskusi peneliti dengan guru–guru matematika lainnya, diketahui bahwa hampir 50% siswa kurang tertarik pada materi matematika. Salah satu penyebabnya yaitu ketergantungan siswa terhadap guru dalam proses pembelajaran dan minat siswa untuk mengerjakan latihan baik di sekolah maupun di rumah masih kurang. Pada saat guru memberikan soal yang sedikit berbeda dengan contoh soal tetapi masih dalam satu ruang lingkup konsep yang sama, hanya beberapa siswa yang dapat menyelesaikan soal tersebut dengan benar. Misalnya pada materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV), Contoh Soal “Selesaikan soal-soal SPLDV dan –x + 2y = 4 dengan metode grafik?”. Ada beberapa siswa yang kesulitan ketika menggambarkan grafik pada bidang cartesius. Siswa sudah terbiasa dengan soal berupa angka-angka saja, akan tetapi ketika siswa dihadapkan pada soal berbentuk cerita, siswa mengalami kesulitan untuk menterjemahkannya kedalam model matematika. Contoh Soal: “Untuk konsumsi acara arisan, ibu ingin memasak kare ayam dan gulai itik. Untuk itu, ibu membeli ayam dan itik ke pasar Lubuk Buaya. Harga  4 ekor ayam dan 5 ekor itik dibayar ibu Rp 48.000. Karena masih kurang, maka ibu membeli lagi 3 ekor ayam dan 5 ekor itik yang dibayar ibu Rp 41.000. Berapakah harga seekor ayam dan berapa pula harga seekor itik yang ibu beli di pasar Lubuk Buaya?”.

Akibat dari kegiatan pembelajaran yang pasif tersebut, ketuntasan belajar siswa masih rendah. Untuk mengatasi hal itu, berbagai upaya telah dilakukan peneliti, seperti pemberian remedial, memeriksa kelengkapan catatan siswa, memberi mereka tugas, dan upaya lain agar nilai matematika siswa baik. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil yang optimal.

Salah satu usaha yang dilakukan guru matematika untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran guna memaksimalkan hasil belajar siswa adalah dengan memperbaiki metode mengajar. Metode yang biasa digunakan guru yaitu metode ekspositori lalu ditingkatkan dengan menggunakan metode tanya jawab. Selain itu, guru juga sudah menerapkan diskusi kelompok, namun diskusi yang terjadi belum efektif karena pembagian kelompok berdasarkan tempat duduk.

Menyikapi kondisi ini perlu adanya usaha lain yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran yaitu dengan menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan guru, kondisi siswa dan lingkungan pembelajaran hal ini berguna untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran serta membuat pembelajaran menjadi efektif, efisien dan menyenangkan yang akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa.

Aktivitas siswa dalam pembelajaran sangat dibutuhkan karena dengan menjadi aktif siswa akan belajar secara bermakna, menemukan dan mengkonstruksi pengetahuan yang mereka dapatkan, serta mencari penyelesaiannya. Untuk kemudian menerapkan pengetahuan tersebut dalam pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Silberman (2006: 28) yaitu ”ketika kegiatan belajar bersifat aktif, siswa akan mengupayakan sesuatu. Dia menginginkan jawaban atas sebuah pertanyaan, membutuhkan informasi untuk memecahkan masalah, atau mencari cara untuk mengerjakan tugas”.

Pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari dari pengetahuan yang mereka dapatkan, dapat beranjak dari pemberian masalah kontekstual dalam pembelajaran, ”belajar memerlukan kedekatan dengan materi yang hendak dipelajari, jauh sebelum memahaminya” (Silberman 2006:27). Pembelajaran akan diawali dengan memberikan masalah kontekstual yang disajikan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) atau masalah yang dikemukakan guru. Dengan adanya masalah tersebut, siswa diharapkan mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dalam menyelesaikan masalah yang diberikan, di sini guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator. Sehingga siswa menemukan keterkaitan antara materi pelajaran dengan yang mereka hadapi dalam kehidupan nyata, hal ini akan menimbulkan ketertarikan atau minat siswa dalam belajar. Minat yang timbul terhadap materi pelajaran akan mengakibatkan terjadinya interaksi dalam pembelajaran, di mana interaksi tersebut akan mendukung siswa mengkonstruksi dan menemukan pengetahuan dari masalah kontekstual yang diberikan, sehingga selanjutnya siswa dapat menemukan pemecahan masalah sendiri.

Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan kosep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapanya dalam kehidupan mereka.

Hakikat pendekatan CTL adalah membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan pengalaman siswa dan dengan  melibatkan siswa secara aktif serta terlakasananya kerja sama antara siswa guru dan antara siswa sesama siswa. Dengan pendekatan CTL, diharapakan siswa termotivasi untuk mau mengeluarkan pendapat, maupun menemukan konsep, mau bertanya kepada guru dan teman, maupun menjadi model, dapat mengambil kesimpulan pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar. Berdasarkan hal di atas, penelitian ini untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa saat pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL secara kooperatif, dengan judul: “Peningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Siswa kelas X1 SMA Bunda Padang Melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)”.

 

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah dalam pembelajaran matematika di kelas X1 SMA Bunda Padang. Masalah tersebut antara lain:

  1. Aktivitas belajar siswa masih rendah.
  2. Siswa kurang termotivasi dalam pembelajaran matematika.
  3. Pembelajaran masih berpusat pada guru.
  4. Hasil belajar matematika masih rendah.
  5. Diskusi kelompok belum efektif.

 

C.  Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah,  penelitian ini dibatasi pada pendekatan CTL untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa X1 SMA Bunda Padang.

  1. D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan,  perumusan masalah dari penelitian ini adalah “Apakah pendekatan CTL dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas X1 SMA Bunda Padang?”.

  1. E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pendekatan CTL untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X1 SMA Bunda Padang dalam belajar matematika.

  1. F. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagi siswa, dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas X SMA Bunda Padang.
  2. Bagi guru, sebagai masukan bagi guru guna meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah.
  3. Bagi sekolah, sebagai salah satu masukan bagi sekolah untuk terus dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
  4. Bagi peneliti, sebagai salah satu wujud dari pengembangan dan peningkatan profesionalisme seorang guru.

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. A. Landasan Teori

1.    Pembelajaran Matematika

Pembelajaran  merupakan sebuah proses yang dilalui manusia untuk  mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru yang selanjutnya akan mengubah tingkah laku dan sikap manusia tersebut. Hal ini  sesuai yang dikemukakan oleh Syah (2004: 68) yakni belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

Setiap manusia terlibat dalam proses kegiatan belajar dan mengajar, karena dalam dirinya terdapat potensi untuk berkembang pikiran, perasaan, keinginan dan kecenderungan untuk hidup lebih baik. Kehidupan yang lebih baik, tidak akan terwujud tanpa adanya pengetahuan yang hanya didapat dalam proses belajar.

Proses pembelajaran di sekolah terjadi melalui interaksi antara guru dengan siswa. Dalam pembelajaran matematika interaksi tersebut tidak hanya mengenai  mentransfer informasi dari guru ke siswa, karena dalam pembelajaran matematika dibutuhkan interaksi multiarah dan aktivitas yang dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran.

Dalam pembelajaran matematika, aktivitas sangat membantu siswa dalam memahami konsep secara menyeluruh. Hudojo (2001:71) menyatakan bahwa belajar matematika bukanlah suatu proses pengepakan secara hati-hati melainkan hal mengorganisir aktivitas di mana kegiatan ini diinterpretasikan secara luas termasuk aktivitas dan berpikir konseptual.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran matematika dibutuhkan interaksi multiarah yang mengorganisir aktivitas-aktivitas untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran.

2.    Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)

Pendekatan Contextual Teaching and Learning atau pembelajaran kontekstual merupakan salah satu pendekatan yang melibatkan siswa secara utuh dalam proses pembelajaran. Pembelajaran beranjak dari masalah nyata yang dekat dengan kehidupan siswa, sehingga keterkaitan  yang dibuat antara materi pelajaran dan masalah seputar kehidupan siswa akan menarik perhatian dan membangkitkan minat siswa terhadap materi pelajaran yang selanjutnya mendorong siswa untuk aktif beraktivitas dalam belajar. Mengenai Contextual Teaching and Learning (CTL), Sanjaya (2006:253) menuliskan:

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Dalam CTL proses belajar diorientasikan pada pengalaman secara langsung, sehingga siswa tidak hanya mendengar dan mencatat melainkan menemukan materi pelajarannya melalui proses mencari. Melalui proses mencari tersebut siswa menemukan kaitan antara materi pelajaran dalam kehidupan nyata. Setelah mempelajarinya, selanjutnya siswa diharapkan dapat menerapkan pelajaran yang didapatkannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-harinya.

Karakteristik penting dalam pembelajaran kontekstual yaitu :             1) Activing Knowledge, yaitu mengaktifkan pengetahuan yang telah ada sehingga pengetahuan baru memiliki keterkaitan dengan pengetahuan yang telah ada; 2) Acquiring Knowledge yaitu penambahan pengetahuan baru secara deduktif; 3) Understanding Knowledge yaitu memahami pengetahuan yang didapat, bukan dihafal; 4) Applying Knowledge yaitu mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dalam kehidupan nyata ; 5) Reflecting Knowledge yaitu merefleksi pengembangan pengetahuan sebagai umpan balik untuk penyempurnaan strategi memperoleh pengetahuan (Sanjaya, 2006:254)

Contextual Teaching and Learning (CTL)  sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas yang mendasari pelaksanaan prosesnya. Ketujuh asas/ komponen tersebut menurut Sanjaya (2006:262) adalah konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian nyata.

  1. Konstruktivisme

Filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldawin lalu dikembangkan dan diperdalam oleh Jean Piaget menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya. Menurut  filsafat ini, pengetahuan memang berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Asumsi itu yang kemudian melandasi pembelajaran kontekstual (Sanjaya, 2006:262). Karena pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman, maka manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Depdiknas, 2002:11).  Sehingga landasan berpikir konstruktivisme sesuai dengan prinsip pembelajaran kontekstual yakni pembelajaran yang mengaitkan pengalaman nyata dengan materi pembelajaran.

Ciri pembelajaran matematika secara konstruktivis dalam Tim FMIPA UNY dan Direktorat PLP Depdiknas (2003: 9) adalah :

1)      siswa terlibat secara aktif dalam belajarnya,

2)      siswa belajar materi matematika secara bermakna dalam bekerja dan berfikir,

3)      siswa belajar bagaimana informasi baru harus dikaitkan dengan informasi lain sehingga menyatu dengan skemata yang dimiliki siswa agar pemahaman terhadap informasi (materi) kompleks terjadi.

4)      orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan,

5)      berorientasi pada pemecahan masalah.

 

Penerapan aspek konstruktivisme dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan menyajikan permasalahan nyata sehingga siswa dapat menghubungkannya dengan materi pelajaran. Pada penelitian ini menuliskan keterkaitan antara materi yang dipelajari pada soal  LKS langkah demi langkah yang dilakukan siswa adalah mengkontruksikan pengetahuan yang dimilikinya.

 

  1. Inkuiri

Berasas inkuiri, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Karena pengetahuan bukanlah kenyataan hasil dari mengingat, melainkan hasil dari proses menemukan sendiri (Sanjaya, 2006:263). Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui langkah-langkah yang dapat membentuk siswa berpikir secara sistematis. Langkah-langkah itu menurut Depdiknas (2002:13) adalah :

1)      merumuskan Masalah

2)      mengamati atau melakukan observasi

3)      menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel dan karya lainnya, dan

4)      mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain.

 

Penerapan asas ini dalam proses pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Selanjutnya siswa didorong membuat batasan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, hingga merumuskan kesimpulan. Asas menemukan seperti yang diuraikan di atas merupakan asas penting dalam pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Menyelidiki, membaca, mencermati, dan menemukan solusi pada LKS, serta menemukan jawaban dengan benar yang dilakukan siswa ini adalah bentuk dari komponen inkuiri.

  1. Bertanya

Bertanya adalah cerminan bahwa adanya rasa keingintahuan dari si penanya, sedangkan menjawab pertanyaan adalah cermin dari kemampuan berpikir. Dalam Contextual Teaching and Learning (CTL) guru tidak memberikan pengetahuan secara langsung akan tetapi merangsang siswa untuk menemukannya sendiri. Melalui bertanya siswa mendapat bimbingan dari guru dan guru mengarahkan siswa untuk menemukan materi yang dipelajarinya (Sanjaya, 2006:264). Dalam suatu pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya sangat berguna untuk :

1)       menggali informasi, baik administrasi maupun akademis,

2)       mengecek pemahaman siswa,

3)       membangkitkan respon kepada siswa,

4)       mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa,

5)       mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa,

6)       memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru,

7)       untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, dan

8)       untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

 

Aktivitas bertanya dapat dilakukan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa atau sebaliknya. Aktivitas ini juga dapat ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati dan sebagainya. Siswa bertanya kepada teman sekelompok atau guru bila tidak mengerti dengan persoalan yang dihadapi, hal ini merupakan bentuk komponen bertanya dari CTL.

  1. Masyarakat Belajar

Konsep masyarakat belajar dalam Contextual Teaching and Learning (CTL) menyarankan agar hasil pembelajaran yang diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain, yang dapat dilakukan secara berkelompok. Di dalam kelompoklah siswa dapat saling bertukar pikiran, pendapat dan membagi pengalamannya masing-masing. Kegiatan berkelompok dapat dilakukan di dalam kelas maupun di lingkungan yang terjadi secara alami. Dalam kelas Contextual Teaching and Learning (CTL), penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok yang anggota-anggotanya heterogen (Sanjaya, 2006:265). Pelaksanaan Contextual Teaching and Learning (CTL) di dalam kelas, menurut Depdiknas (2002:15) guru disarankan melaksanakannya dalam kelompok-kelompok belajar yang anggotanya heterogen. Metode belajar dengan teknik ”learning community” ini sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam pembentukan kelompok kecil, pembentukan kelompok besar, mendatangkan ’ahli’ ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, perawat, petani, pengurus organisasi, polisi, tukang kayu, dsb), bekerja dengan kelas sederajat, bekerja kelompok dengan kelas di atasnya dan bekerja dengan masyarakat. Siswa mengerjakan soal-soal tugas kelompok secara individu, kemudian mencocokkan jawaban dengan anggota kelompoknya dan menanggapi hasil kerja kelompok yang tampil di depan kelas, hal ini merupakan salah satu komponen dari CTL yaitu masyarakat belajar.

  1. Pemodelan

Yang dimaksud dengan asas pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Dalam Depdiknas (2002: 17) dinyatakan bahwa guru bukanlah satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Sehingga asas pemodelan dapat pula diterapkan dengan meminta siswa menyebutkan contoh-contoh yang berkaitan dengan materi pelajaran. Siswa menyajikan hasil kerja kelompoknya kedepan kelas, hal ini merupakan salah satu komponen dari CTL yaitu pemodelan.

  1. Refleksi

Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilalui siswa. Melalui proses ini, pengalaman belajar akan dimasukkan kedalam struktur kognitif siswa yang akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimiliki siswa (Sanjaya, 2006:266). Pelaksanaan refleksi dapat dilakukan pada akhir pembelajaran. Realisasi dari kegiatan ini dalam Depdiknas (2002: 18) dinyatakan dapat berupa :

1)      pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu,

2)      catatan atau jurnal di buku siswa,

3)      kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu

4)      diskusi, dan

5)      hasil karya.

 

Berdasarkan  pernyataan  di atas, maka pelaksanaan refleksi dapat dilakukan dengan beragam cara, seperti menyuruh siswa mengungkapkan kembali pengetahuan yang telah didapat, memeriksa dan melengkapi catatan-catatan, tanya jawab mengenai proses yang telah dilalui dalam pembelajaran atau mengaplikasikan pengetahuan yang telah didapat dalam menciptakan hasil karya. Pada penelitian ini mengerjakan latihan individu secara optimal merupakan wujud dari merefleksikan pengetahuan siswa.

  1. Penilaian nyata (Penilainan Otentik)

Dalam Contextual Teaching and Learning (CTL), keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan nilai pada ranah kognitif saja, namun juga perkembangan seluruh aspek. Yaitu hasil tes dan proses belajar melalui penilaian nyata. Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini untuk  mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa. Penilaian ini juga dilakukan secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung, sehingga penekanan ada pada proses belajar bukan pada hasilnya (Sanjaya, 2006: 266).

Penerapan aspek penilaian nyata dalam pembelajaran dapat dilakukan guru melalui tanya jawab dengan siswa, sehingga melalui jawaban siswa, guru dapat secara langsung menilai perkembangan pengetahuan yang didapatkan siswa setelah belajar. Penilaian nyata pada penelitian ini untuk aktivitas belajar siswa dilihat dari lembar observasi siswa dan hasil kerja kelompok dalam mengerjakan LKS. Sedangkan penilaian nyata untuk hasil belajar dilihat dari kuis dan ulangan harian siswa.

Perbedaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan pendekatan tradisional (Behaviorisme/Strukturalisme/Objektivitas) (Nurhadi, 2004 : 35-36) adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Perbedaan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan Pendekatan Tradisional

 

No Pembelajaran CTL No Pembelajaran Tradisional
1.

 

 

 

2.

 

 

 

 

3

 

 

 

 

4.

 

 

5.

.

 

 

6.

 

7.

 

 

 

 

8.

 

 

 

 

 

9.

 

 

 

 

10.

 

 

 

 

 

 

11.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12.

 

 

 

 

 

 

 

 

13.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14.

 

 

 

 

 

 

15.

 

 

 

16.

 

 

 

 

 

17.

 

 

 

18.

 

 

 

19.

 

 

20.

Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran.

 

Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengkoreksi.

 

Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan.

 

Perilaku dibangun atas kesadaran diri.

 

Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.

 

Hadiah untuk prilaku baik adalah kepuasan diri.

Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan.

 

Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata.

 

Pemahaman rumus dikembangakan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa.

 

Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa satu dengan yang lainnya, sesuai dengan skemata siswa (ongoing process of development).

 

Siswa menggunakan kemampuan berfikir keritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadiny proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran.

 

Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia menciptakan atau membangaun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya.

 

Karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikontruksikan) oleh manusia itu sendiri, sementra manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentative & incomplete).

 

Siswa diminta bertanggung jawab, memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing.

 

Penghargaan terhadap pengalam siswa sangat diutamakan.

 

Hasil belajar diukur dengan berbagai cara: proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes, dan lain-lain.

 

Pembelajaran terjadi diberbagai tempat, konteks, dan setting.

 

Penyesalan adalah hukuman dari prilaku jelek.

 

Prilaku baik berdasar motivasi intrinsik.

 

Seseorang berprilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat.

 

1.

 

 

2.

 

 

 

 

 

3.

 

 

 

 

4.

 

 

5.

 

 

 

6.

 

7.

 

 

 

 

8.

 

 

 

 

 

9.

 

 

 

 

10.

 

 

 

 

 

 

11.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12.

 

 

 

 

 

 

 

 

13.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14.

 

 

 

 

 

 

15.

 

 

 

16.

 

 

 

 

 

17.

 

 

 

18.

 

 

 

19.

 

 

20.

Siswa adalah penerima informasi secara pasif.

 

Siswa belajar secara individual.

 

 

 

 

 

Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis.

 

 

 

Prilaku dibangun atas kebiasaan.

 

 

Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan.

 

 

Hadiah untuk prilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor.

Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut kukuman.

 

 

 

Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterangkan sampai paham, kemudian latihan, (drill).

 

Rumus itu ada diluar diri siswa, yang harus diterangkan, diterima, dihapalkan, dan dilatihkan.

 

 

Rumus adalah kebenaran obsolut(sama untuk semua orang). Hanya ada dua kemungkinan, yaitu pemahaman rumus yang salah atau pemahaman rumus yang benar.

 

 

Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal), tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang berada di luar diri manusia.

 

 

 

 

 

Kebenaran besifat obsolut dan pengetahuan bersifat final.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Guru adalah penentu jalanya proses pembelajaran.

 

 

 

 

 

Pembelajaran tidak mempehatikan pengalaman siswa.

 

 

Hasil belajar diukur hanya dengan tes.

 

 

 

 

Pembelajaran terjadi hanya didalam kelas.

 

 

Sanksi adalah hukuman dari prilaku jelek.

 

 

Prilaku baikberdasar motivasi ekstrinsik.

 

Seseorang berprilaku baikkarena dia terbiasa melakukan begitu. Kebiasan ini dibangun dengan hadiah yang menyenangkan.

 

 

3.  Pembelajaran Kooperatif

a.   Definisi dan Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu bentuk pembelajaran secara berkelompok yang dapat dilakukan di dalam kelas secara formal ataupun di lingkungan yang terbentuk secara alami. Definisi pembelajaran kooperatif menurut Lie (2002:17) yaitu :

Sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk didalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993) yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.

 

Sehubungan dengan definisi di atas, Roger dan David Johnson (dalam Lie, 2002:30) menyebut kelima unsur pokok tersebut dengan lima unsur model pembelajaran gotong royong yang harus diterapkan untuk mencapai hasil yang maksimal. Secara rinci kelima unsur tersebut  dijelaskan sebagai berikut :

1)   Saling Ketergantungan Positif

Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Karena tujuan dalam sebuah kelompok yang anggotanya heterogen adalah sama, keberhasilan penyelesaian tugas kelompok ditentukan dari kinerja masing-masing anggotanya. Agar tercipta kelompok kerja yang efektif, dalam pelaksanaannya haruslah ada pembagian tugas masing-masing anggota sesuai dengan tujuan kelompoknya, dan tugas tersebut juga harus disesuaikan dengan kemampuan setiap anggota kelompok. Anggota kelompok yang berkemampuan lebih dapat membantu temannya yang lemah. Sehingga semua anggota akan merasa saling ketergantungan yang sifatnya positif.

2)   Tanggung Jawab Individual

Unsur ini adalah dampak dari unsur pertama, yakni jika tugas dan sistem penilaian  dibuat sesuai prosedur pembelajaran kooperatif maka akan timbul rasa tanggung jawab dalam setiap diri anggota, sehingga mereka melakukan tugasnya secara maksimal untuk mencapai tujuan kelompoknya.

3)   Interaksi Interpersonal atau Tatap Muka

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menuntut interaksi setiap anggota kelompok dalam pertemuan tatap muka, dimana kegiatan berdiskusi dan saling membelajarkan dapat dilakukan untuk menyelesaikan tugas kelompok.

4)   Komunikasi Antaranggota

Berkomunikasi merupakan kemampuan yang harus dimiliki manusia sebagai mahluk sosial. Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk mampu berkomunikasi dalam rangka berpartisipasi secara aktif agar tujuan kelompok tercapai

5)   Evaluasi Proses Kelompok

Guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya dapat bekerja sama  dengan lebih efektif. Waktu evaluasi dapat dilakukan setelah beberapa pertemuan  siswa terlibat dalam pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif  merupakan pembelajaran yang menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan anggota yang heterogen, sehingga didalamnya tercipta interaksi sesama anggota yang saling membutuhkan. Karena penilaian dilakukan terhadap kelompok, maka setiap anggota kelompok akan mempunyai ketergantungan positif, dimana rasa ketergantungan ini akan menimbulkan tanggung jawab individu terhadap kelompok. Setiap individu akan saling membantu, sehingga untuk keberhasilan kelompoknya mereka mempunyai motivasi dan kontribusi masing-masing dalam penyelesaian tugas kelompok.

b.   Manfaat Pembelajaran Kooperatif

Tidak semua bentuk pembelajaran kelompok dapat disebut sebagai pembelajaran kooperatif, karena dalam pembelajaran kooperatif mensyaratkan unsur-unsur kegotong royongan. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelajaran kelompok yang  dapat digunakan jika guru menghendaki keseluruhan siswanya berhasil dalam belajar, berkembangnya kemampuan komunikasi siswa, serta meningkatnya motivasi dan partisipasi mereka. Slavin (1995) yang dikutip Sanjaya (2006: 240) mengemukakan dua alasan dari pembelajaran kooperatif yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dan dianjurkan para ahli pendidikan untuk digunakan. Alasan tersebut adalah :

1)        beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri, dan

2)        pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.

 

Dari kedua alasan tersebut, maka pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran yang dapat memperbaiki sistem pembelajaran selama ini yang memiliki kelemahan berupa ketidakaktifan siswa dalam proses pembelajaran sehingga berakibat pada prestasi belajar mereka.

c.   Pengelolaan Kelas Pembelajaran Kooperatif

Yang termasuk dalam pengelolaan kelas dalam pembelajaran kooperatif adalah mengenai pembentukan kelompok dan teknik-teknik mengelola kelompok-kelompok tersebut :

1)   Pembentukan Kelompok

Pengelompokan berdasarkan latar belakang anggota yang berbeda atau pengelompokan heterogenitas merupakan ciri-ciri yang menonjol dalam metode pembelajaran gotong royong yang juga menjadi cara pengelompokan dalam pembelajaran kooperatif. Menurut Lie (2002: 40) pengelompokan heterogenitas bisa dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender, latar belakang sosioekonomi dan etnik, serta kemampuan akademis.

Dalam kelompok pembelajaran kooperatif, biasanya terdiri dari  satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis kurang. Kelompok heterogen pada umumnya disukai para guru yang telah memakai metode pembelajaran kooperatif karena beberapa alasan. Alasan  tersebut diungkapkan Lie (2002:42) yaitu :

  1. i.            kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung,
  2. ii.            kelompok ini meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, etnik, dan gender, dan
  3. iii.            kelompok heterogen memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten untuk setiap tiga orang.

 

Berdasarkan uraian di atas maka pembentukan kelompok dalam pembelajaran kooperatif dapat dilakukan secara heterogenitas latar belakang dari anggota kelompok.

2)      Teknik-teknik  Pengelolaan kelas

Setelah kelompok terbentuk dan proses pembelajaran berlangsung, tidak menutup kemungkinan jika guru akan mengalami kendala-kendala. Kendala yang dimaksud dapat berupa kegaduhan yang merupakan kodisi wajar. Dalam Depdiknas (2005:82) yang disadur oleh Mohamad Nur dinyatakan teknik pengelolaan kelas kooperatif yaitu :

  1. i.        Sinyal Menghentikan Kegaduhan

Ketika sebuah tim berbicara, maka tim didekatnya akan berbicara sedikit lebih keras, sehingga memaksa tim pertama beerbicara lebih keras lagi. Akibatnya tingkat kegaduhan akan meningkat. Guru perlu mengembalikan tingkat kegaduhan dengan cepat menjadi tingkat nol, dengan menjelaskan pada siswa agar merespon dengan cepat terhadap sinyal menghentikan kegaduhan. Sinyal menghentikan kegaduhan merupakan sinyal bagi siswa untuk berhenti berbicara, agar memberi perhatian penuh pada guru, dan meminta agar tangan dan tubuh mereka tidak bergerak. Sinyal tersebut dapat berupa guru mengatakan ”Perhatian anak-anak”, atau mematikan lampu dan sebagainya yang dapat menyadarkan siswa tentang sinyal menghentikan kegaduhan.

  1. ii.            Penghargaan Kelompok

Ada kalanya sinyal menghentikan kegaduhan hanya bermanfaat sementara, maka menurut Spencer Kagan, guru harus bertindak menghampiri kelompok terbaik dalam kelas dan meminta kelompok lain memperhatikan kelompok tersebut, berikan penghargaan atas kerja baik mereka dan katakan dengan jelas apa yang guru sukai tentang prilaku pada kelompok tersebut. Hal ini akan menunjukkan pada siswa prilaku seperti apa yang dihargai dan prilaku seperti apa pula yang tidak mendapat penghargaan.

d.   Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif

Tujuan dibentuknya pengelompokan secara kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar terlibat secara aktif dalam proses berfikir dalam kegiatan belajar. Carin (1993:44) mengemukakan bahwa ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah:

1)      setiap anggota mempunyai peran,

2)      terjadinya hubungan interaksi langsung diantara siswa,

3)      setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas kelompok belajarnya,

4)      peran guru membantu para siswa, dan

5)      guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat di perlukan.

 

Peran yang diberikan pada masing-masing siswa sebagai anggota kelompok akan menumbuhkan rasa tanggung jawab individual yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kelompok mereka. Di dalam kelompok akan terjadi interaksi sesama siswa, dan guru hanya berperan sebagai pembimbing.

e.   Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif

Pada umumnya, semua model pembelajaran mempunyai tujuan yang sama yakni tercapainya tujuan pembelajaran. Beragam model pembelajaran yang ada memiliki kelebihan dan kekurangan sesuai kondisi dan situasi saat pelaksanaan. Begitu pula halnya dengan pembelajaran kooperatif. Mengenai keunggulan dan kekurangan pembelajaran ini, Sanjaya (2006: 247) menyatakan keunggulan strategi pembelajaran kooperatif (SPK) sebagai suatu strategi pembelajaran diantaranya :

1)      melalui SPK siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain,

2)      SPK dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain,

3)      SPK dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan,

4)      SPK dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar,

5)      SPK merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waktu, dan sikap positif terhadap sekolah,

6)      Melalui SPK dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawwab kelompoknya,

7)      SPK dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil),

8)      Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.

 

Dengan pelaksanaan yang tepat, maka pembelajaran kooperatif akan mempermudah guru dalam upaya mengembangkan pola pikir siswa baik di ranah kognitif, afektif dan pada ranah psikomotornya.

Setelah keunggulannya, pembelajaran kooperatif juga memiliki kelemahan yang harus diantisipasi atau ditanggulangi dalam pelaksanaannya agar tujuan pembelajaran tetap tercapai secara maksimal. Kelemahan-kelemahan pembelajaran kooperatif atau yang disebut Sanjaya (2006: 248) sebagai keterbatasan yakni :

1)      untuk memahami dan mengerti filosofis SPK memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat cooperative learning. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, contohnya, mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat mengganggu iklim kerja sama dalam kelompok,

2)      ciri utama dari SPK adalah bahwa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa peer teaching yang efektif, maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa,

3)      penilaian yang diberikan dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa,

4)      keberhasilan SPK dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang. Dan, hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-kali penerapan strategi ini, dan

5)      walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual. Oleh karena itu idealnya melalui SPK selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana kedua hal itu dalam SPK memang bukan pekerjaan yang mudah.

 

Dengan pengelolaan yang baik, keterbatasan-keterbatasan tersebut akan dapat diatasi. Karena pada dasarnya penerapan suatu model pembelajaran tidak dapat diharapkan keberhasilannya dengan hanya sekali penerapan.

4.   Aktivitas dalam Belajar

Menurut Slameto (1988:29) dalam belajar setiap siswa harus diusahakan berpartisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.

Aktivitas siswa tidak hanya dinilai dari partisipasinya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru. Keaktivan siswa juga dapat dilihat dari kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Yang dimaksud dengan berpikir kritis adalah suatu cara berpikir yang memeriksa hubungan-hubungan serta mengevaluasinya, kemampuan untuk mengumpulkan informasi, mengingat serta menganalisanya, kemampuan untuk membaca serta memahami dan mengindentifikasi hal-hal yang diperlukan. Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan berpikir kreatif adalah suatu kemampuan yang bersifat original dan refleksif serta menghasilkan suatu yang kompleks, seperti mensintesiskan gagasan-gagasan, memunculkan ide baru, menentukan efektifitas gagasan tersebut dan mampu membuat keputusan serta memunculkan generalisasi (Krulick dan Rudrick dalam NCTM 1999).

Untuk melihat adanya aktivitas siswa dalam pembelajaran, Sudjana dalam Elvina (2001: 20 ) menentukan ciri-cirinya sebagai berikut :

  1. turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya,
  2. terlibat dalam pemecahan masalah,
  3. bertanya kepada siswa lain atau kepada guru bila tidak mengerti dengan persoalan yang dihadapi,
  4. berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah,
  5. melaksanakan diskusi kelompok sesuai petunjuk guru,
  6. melatih diri dalam mengerjakan soal, dan
  7. memanfaatkan kesempatan menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas-tugas atau persoalan yang dihadapinya.

 

Berdasarkan kutipan di atas maka dibuat sub-sub indikator sebagai ciri adanya aktivitas yang dilakukan siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Kemudian untuk selanjutnya sub-sub indikator tersebut digunakan sebagai indikator pada lembar observasi keaktivan siswa.

Guru sebagai pelaksana dalam proses pembelajaran dituntut untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Salah satunya dengan melibatkan siswa secara aktif secara perorangan maupun kelompok. Sehubungan dengan hal ini, Rohani (1991: 58) menyatakan :

Keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses pengajaran yang diharapkan adalah keterlibatan secara mental Dengan beraktivitas artinya siswa diberi kesempatan untuk belajar menemukan prinsip dari sebuah materi melalui pengalamannya. (intelektual dan emosional) yang dalam beberapa hal dibarengi dengan keaktifan fisik sehingga peserta didik betul-betul berperan serta dan berpartisipasi aktif dalam proses pengajaran.

 

Pembelajaran yang dirasa dapat menarik perhatian dan minat siswa adalah pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Maka untuk meningkatkan keaktivan siswa dalam kegiatan pembelajaran tersebut, pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)  dapat dilaksanakan dalam pembelajaran berkelompok dimana siswa dapat saling membagi pengalaman nyatanya dalam kehidupan sehari-hari untuk menemukan materi pelajaran melalui kegiatan kelompok, selanjutnya menemukan keterkaitan antara pengalaman mereka dengan materi pelajaran dan kemudian menerapkan pelajaran yang telah diperoleh dalam upaya memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan demikian tercapailah tujuan pembelajaran matematika.

  1. 5. Lembar Kerja Siswa (LKS)

Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan gambaran kerja yang berfungsi sebagai alat bantu pengajaran yang termuat dan suatu unit program pembelajaran yang dapat berupa satu, dua atau lebih pokok bahasan dan sub pokok bahasan, yang disajikan dalam bentuk tugas, soal–soal atau pertanyaan–pertanyaan yang terstruktur. Dengan kata lain, LKS merupakan bentuk operasional dari suatu pembelajaran.

Cecep Wijaya dalam (Rosman, 1992: 26) mengemukakan hal–hal yang perlu ada dalam LKS yaitu:

  1. petunjuk siswa mengenai  topik  yang dibahas, pengarahan umum dan waktu yang tersedia untuk mengerjakannya,
  2. tujuan pembelajaran berupa tujuan instruksional khusus yang  diharapkan diperoleh siswa setelah mereka bekerja dengan LKS tersebut,
  3. alat–alat pelajaran yang digunakan,
  4. pokok materi dan rinciannya, dan
  5. Petunjuk–petunjuk khusus tentang langkah kegiatan yang ditempuh yang diberikan secara terperinci dan berkelanjutan dan diselingi dengan pelaksanaan kegiatan.

 

Penggunaan LKS dalam pembelajaran matematika sangat penting artinya dalam melakukan kegiatan pembelajaran, karena dapat berfungsi ganda baik dilihat dari guru maupun siswa. Guru dapat menggunakan LKS untuk mengaktifkan siswa dalam belajar guna menentukan sendiri konsep, prinsip dan skill dalam penyelesaian materi yang sedang dipelajari. Dalam penelitian ini, LKS yang digunakan dalam proses pembelajaran, terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dua orang guru matematika untuk divalidasi.

  1. 6. Hasil Belajar Matematika

Kegiatan yang paling utama dalam proses pendidikan adalah belajar. Secara psikologis belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Perubahan tingkah laku dapat diamati dalam waktu relatif lama. Kegiatan untuk mencapai perubahan tingkah laku itu merupakan proses sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri merupakan hasil belajar. Dalam proses pembelajaran yang dilakukan terhadap siswa, hasil belajar kemampuan yang dimiliki siswa setelah melakukan prosespembelajaran. Jadi hasil belajar adalah tolak ukur yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam mengetahui dan memahami suatu mata pelajaran. Hasil belajar terwujud dalam perubahan tingkah laku dari yang tidak tahu menjadi tahu dan yang tidak mengerti menjadi mengerti.

Perubahan yang didapat setelah pembelajaran ini berupa perubahan pengetahuan, pengalaman, keterampilan, nilai dan sikap. Dengan kata lain meliputi penguasaan terhadap ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Hasil belajar matematika yang dimaksud pada penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa setelah mengalami proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Hasil belajar dapat diungkapkan berupa angka atau huruf yang menggambarkan tingkat penguasaan siswa terhadap apa yang telah dipelajari.

Hasil belajar matematika merupakan tolak ukur yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam menguasai suatu materi pelajaran. Sehubungan dengan hal tersebut diatas Hamalik (1992:21) mengemukakan sebagai berikut :

Hasil belajar adalah tingkah laku yang timbul misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, perubahan dalam sikap, kebiasaan, keterampilan, kesanggupan, menghargai, perkembangan sifat-sifat sosial, emosional dan pertumbuhan jasmani.

 

Hasil belajar dapat di peroleh dengan mengadakan evaluasi melalui pemberian tes kepada siswa. Hasil evaluasi ini berapa nilai yang di peroleh siswa dari tes yang diberikan.

  1. 7. Pelaksanaan Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)

Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar matematika, karena didalamnya pembelajaran disajikan dengan mengemukakan kenyataan yang ada dalam kehidupan menemukan keterkaitan antara materi pelajaran dengan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari, dan untuk selanjutnya proses pembelajaran menjadi aktif.

Pendekatan CTL mensyaratkan tujuh komponennya digunakan dalam pembelajaran. Menurut dalam depdiknas (2002:10) dimemunculkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajaran di kelas mengacu pada langkah-langkah berikut ini:

  1. mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya,
  2. melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik,
  3. mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya,
  4. menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok),
  5. menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran,
  6. melakukan refleksi di akhir pertemuan, dan
  7. melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

 

Berdasarkan kutipan di atas, maka pembelajaran dengan pendekatan CTL yang menerapkan pembelajaran berkelompok yang akan dilaksanakan adalah seperti yang dijelaskan berikut ini:

  1. Siswa di bagi lima kelompok yang terdiri dari 5-6 orang.
  2. Pembelajaran akan diawali dengan memberikan masalah kontekstual yang disajikan dalam Lembar Kerja Siswa atau masalah yang dikemukakan guru. Dengan adanya masalah tersebut, siswa diharapkan mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dalam menyelesaikan masalah yang diberikan, di sini guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator.
  3. Kegiatan inquiri yang disajikan dalam LKS akan menuntun siswa  menemukan sendiri penyelesaian masalah yang diberikan.
  4. Kegiatan bertanya dilakukan antara guru dengan siswa juga sesama siswa.
  5. Dalam LKS terdapat kegiatan yang harus dilakukan secara berkelompok, pembagian siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil dilakukan guru berdasarkan pedoman pada pembelajaran kooperatif.
  6. Pemberian contoh atau model dapat dilakukan oleh guru dan siswa dengan model nyata atau hanya menyebutkan contoh-contoh yang sesuai dengan materi.
  7. Melaksanakan refleksi pada setiap akhir pertemuan.
  8. Melaksanakan penilaian dalam proses pembelajaran yakni menilai aktifitas siswa secara individu maupun dalam kegiatan berkelompoknya.

Dengan tujuh komponen tersebut, diharapkan pembelajaran matematika dengan pendekatan CTL yang menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan aktivitas siswa.

B.   Kerangka Konseptual

Dalam melaksanakan kegiatan mengajar, guru harus mampu memilih strategi yang tepat, kemudian mencocokkan strategi dengan metode serta pendekatan yang akan diambil. Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen yang harus disertakan dalam penerapannya, salah satunya komponen masyarakat belajar. Komponen ini dalam pembelajaran bermaksud agar ada learning community atau komunitas belajar yang terjadi dalam sebuah kelas, sehingga siswa dapat belajar tidak hanya dari guru namun juga dari temannya baik dalam kelompok di kelas maupun di lingkungannya.

Pembelajaran secara berkelompok memiliki aturan tertentu agar tujuan kelompok dapat tercapai. Aturan pembentukan kelompok di kelas dapat dilakukan dengan berpedoman pada aturan pembelajaran kooperatif. Penerapan kooperatif dalam pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) akan membantu pencapaian tujuan pembelajaran. Karena kolaborasi antara komponen-komponen dalam pendekatan kontekstual dan prinsip-prinsip pada pembelajaran kelompok akan menjadikan seluruh siswa terlibat dalam kegiatan-kegiatan belajar, sehingga seluruh siswa menjadi aktif dan belajar menjadi bermakna. Melalui kegiatan pembelajaran yang aktif dan bermakna diharapkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa akan meningkat. Adapun kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1:

Kerangka Konseptual Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s